Pada waktu itu pegawai Stafnya banyak yang bujangan. Ada kang Kosasih yang sudah pegang Afdeling, ada kang Asep Ruchiat, Employe Teknik tukang mengawasi mesin2, ada kang Bung Rugebreght, employe Teknik tukang bangunan2, ada kang Lily Segly,Employe Administrasi, ada
Adang Abdurrachman,Employe Kebun, ada Anis Hadisupeno dan ada saya Kuswara Basar. Sebagai pimpinan bujangan adalah Mas Sunardi Djajaatmaja, Kepala Teknik. Sengaja beliau yang kita tunjuk supaya ada kemudahan, karena beliau ada kendaraan dinas, jadi kalau pingin lotek Pangalengan ngolo beliau. Waktu senggang,maka bujangan2 ini kumpul dirumah beliau, biasa makan2 mie pakai MAGGI. Maggi barang langka pada waktu itu mah. Bujangan2 yang lainnya ditempatkan disuatu rumah, kecuali kang Asep dan kang Bung. Kami2 ini tergabung dalamPBB, Persatuan Bujang Bingung.
Pada waktu itu musimnya singkatan2 Hansip,Danyon,Danton,Danru,Wamil dan lainnya seperti WAKUNCAR, wajib kunjung pacar untung bagi yang sudah punya pacar kalaupun ada jauh tidak tentu sebulan sekali dikunjungi. Yang sering adalah WAMILDA, dimana kalau dirumah sudah bosan dengan makan yang itu2 juga, maka pada waktu jam makan biasanya menjelang malam maka kita2 ini berkunjung kepada para senior untuk ikut WAjib MILu DAhar. Untung para senior kita udah pada maklum. Hahahahha.
Pengalaman hidup sejak kecil, dewasa,sekolah,bekerja,pensiun dan menjalani sisa hidup.
Rabu, 27 Januari 2010
Jumat, 22 Januari 2010
Masih cerita ringan
Pada waktu itu Perkebunan mendapat mesin pengeringan baru merk Siroco untuk mengganti mesin pengeringan lama yang rendah kapasitasnya dan old mode. Pemasangannya cukup lama memerlukan beberapa minggu. Setelah selesai masa percobaan maka dipakai dengan full capacity.
Semua jenis teh dikeringkan disini mulai dari bubuk 1, bubuk 2, bubuk 3,panengah 1, panengah 2. Selesai mengeringkan biasanya sudah agak malam dan pabrik sudah mulai agak sepi tinggal beberapa orang saja yaitu karyawan pengeringan. Selesai mengeringkan temperatur mesin pengeringan akan tinggi terutama pada pipa pengeluaran debu yang membentang diatas mesin pengeringan.Nah pada saat itu terlihat bayangan orang sedang ucang2an diatas pipa itu dan terdengar seperti orang sedang mengaji. Karena terlihat dan terdengar oleh banyak orang, maka ributlah di Pabrik. Ruang pengeringan diperiksa demikian pula mesin pengeringannya kalau benar2 ada orangnya. Tapi dicari-caripun tidak ketemu dan mana mungkin, pipa itu jangankan diduduki lewat saja panasnya bukan main. Tersebar berita di pengeringan aya jurigan, akibatnya karyawan pada takut, terutama karyawan wanita dari bagian sortasi, karena kalau mau kerja harus lewat ruang pengeringan. Akibatnya ada karyawan yang kesiangan,yang mangkir yang malas dengan alasan takut.........jurig.
Untuk menetralisir keadaan untuk memberikan sugesti kepada karyawan, maka diadakan pengajian dan doa bersama demi keselamatan seluruh karyawan. Tapi masih saja ada sebagian karyawan yang masih sangsi....jurignya masih ada.... didatangkanlah orang pintar. Setelah berkomunikasi dengan jurig itu, dikatakannya......belong ini terbuat dari besi mungkin saja pada waktu peleburan jadi besi terjadi kecelakaan yang menyebbkan kematian dan rohnya terus nempel di besi tsb.. Setelah jadi mesin pengeringan diangkut dengan kapal laut dan diperjalanan numpang lewat di Pakistan dan ikutlah dia itu jalan2 dari Pakistan...Tanjung Priuk dan sampai achirnya di Perkebunan Malabar......jadi jurig Pakistan!Ada-ada saja!!??.
Semua jenis teh dikeringkan disini mulai dari bubuk 1, bubuk 2, bubuk 3,panengah 1, panengah 2. Selesai mengeringkan biasanya sudah agak malam dan pabrik sudah mulai agak sepi tinggal beberapa orang saja yaitu karyawan pengeringan. Selesai mengeringkan temperatur mesin pengeringan akan tinggi terutama pada pipa pengeluaran debu yang membentang diatas mesin pengeringan.Nah pada saat itu terlihat bayangan orang sedang ucang2an diatas pipa itu dan terdengar seperti orang sedang mengaji. Karena terlihat dan terdengar oleh banyak orang, maka ributlah di Pabrik. Ruang pengeringan diperiksa demikian pula mesin pengeringannya kalau benar2 ada orangnya. Tapi dicari-caripun tidak ketemu dan mana mungkin, pipa itu jangankan diduduki lewat saja panasnya bukan main. Tersebar berita di pengeringan aya jurigan, akibatnya karyawan pada takut, terutama karyawan wanita dari bagian sortasi, karena kalau mau kerja harus lewat ruang pengeringan. Akibatnya ada karyawan yang kesiangan,yang mangkir yang malas dengan alasan takut.........jurig.
Untuk menetralisir keadaan untuk memberikan sugesti kepada karyawan, maka diadakan pengajian dan doa bersama demi keselamatan seluruh karyawan. Tapi masih saja ada sebagian karyawan yang masih sangsi....jurignya masih ada.... didatangkanlah orang pintar. Setelah berkomunikasi dengan jurig itu, dikatakannya......belong ini terbuat dari besi mungkin saja pada waktu peleburan jadi besi terjadi kecelakaan yang menyebbkan kematian dan rohnya terus nempel di besi tsb.. Setelah jadi mesin pengeringan diangkut dengan kapal laut dan diperjalanan numpang lewat di Pakistan dan ikutlah dia itu jalan2 dari Pakistan...Tanjung Priuk dan sampai achirnya di Perkebunan Malabar......jadi jurig Pakistan!Ada-ada saja!!??.
Cerita ringan di Perkebunan
Perkebunan sumber cerita dari mulai cerita misteri,cerita ringan,cerita.....porno. Mulai dari cerita ringan saja. Pada waktu mulai kerja dan aku ditempatkan di Pabrik, aku baca Business News yang terbitnya juga masih sederhana, di kertas edaran tertulis : Untuk dibaca: Seluruh Staf! Disana tercantum nama Yohan Rugebreght. Aku pikir ...kok masih ada Belandanya.Padahal Perkebuan itu baru diambil alih dan staf2 Belandanya pada pulang ke Belandan atau ke Afrika membuka Perkebunan Teh baru. Aku bayangkan orangnya putih, tinggi, hidung mancung,mata biru,ngomongnya Indonesia Belanda. Pada waktu rapat aku dikenalkan dengan Staf2 yang sudah ada diantaranya Yohan Rugebreght. Bapak Administratur waktu mengenalkan beliau sambil tersenyum dan akupun rada bengong, karena yang aku sangkakan beliau itu yang Namanya Yohan Rugebreght adalah orang Belanda, ternyata wong Ambon dari Bandung,bicaranya juga bisa basa Sunda..........Walanda Hideung. Memang kulitnya hitam ....manis, sorot matanya tajam, setia,tegas dan ngotot. Ke ngototannya dibuktikannya waktu dia mau nikah dia berkeinginan isterinya orang Sunda, walaupun sudah dua kali gagal mendapatkan isteri orang Sunda, achirnya berkat kengototannya itu dia berhasil mendapatkan orang Sunda, walaupun harus di.....sunat. Semoga arwah beliau diterima disisinya dan dimaafkan segala kesalahannya dan diampuni segala dosa2nya, karena kang Abung panggilan akrabnya telah meninggal dunia beberapa puluh tahun yang lalu.
Selasa, 01 Desember 2009
KHAYALAN MULAI NYATA
Saya sendiri tidak merasa melamar pekerjaan, sekonyong-konyong ada panggilan dan diterima bekerja di Perusahaan Perkebunan Negara Unit Jawa Barat III. Ternyata hal itu adalah usaha dari ibu saya sendiri. Ibu pada waktu itu bertamu kerumah saudara yang saya tahu beliau adalah anggauta TNI Angkatan Darat, pernah bertugas di Batalion 330. Biasa saja obrolan ibu ngalor ngidul dan achirnya sampai kepada pembicaraan mengenai saya :" Engkus ge karek lulus ti SMEA can boga gawe". "Ari kersaeun mah Engkusna aya lowongan kangge Sinder Kebun di Perkebunan Malabar/Tanara, kangge Calon Employe Kebun". Ibuku langsung menjawab pasti si Engkus mah daekeun di Perkebunan. Ternyata ibuku punya obsesi agar saya bekerja di Perkebunan, karena terobsesi waktu di Ciamis oleh Putra-putri wa Adi KDBH pada waktu itu yang begitu lulus dari SKMA ditempatkan di Kehutanan Kabupaten.
Ternyata saudara ibu itu, biasanya kami memanggilnya mang Bini,adalahPerwira Petugas yang ditugaskan di Perusahaan Perkebunan Negara sebagai Kuasa Direksi.
Padahal padawaktu itu aku sudah bekerja di Padi Sentra dan sudah berhak dapat kredit speda tanpa motor walaupun aku baru bekerja dan masih calon pegawai. Persis aku akan diangkat jadi pegawai aku memilih bekerja di Perusahaan Perkebunan Negara, kabita harga beras cuma 1 rupiah akibatnya kredit sprda diberikan kepada calon pegawai lainnya.
Sayapun tidak menyianyiakan kesempatan ini, begitu diterima surat panggilan langsung menghadap ke Kantor di Jalan Dago Bandung dan menandatangani persetujuan untuk di tempatkan di Perkebunan Malabar/Tanara sebagai Calon Sinder Kebun.
Ternyata saudara ibu itu, biasanya kami memanggilnya mang Bini,adalahPerwira Petugas yang ditugaskan di Perusahaan Perkebunan Negara sebagai Kuasa Direksi.
Padahal padawaktu itu aku sudah bekerja di Padi Sentra dan sudah berhak dapat kredit speda tanpa motor walaupun aku baru bekerja dan masih calon pegawai. Persis aku akan diangkat jadi pegawai aku memilih bekerja di Perusahaan Perkebunan Negara, kabita harga beras cuma 1 rupiah akibatnya kredit sprda diberikan kepada calon pegawai lainnya.
Sayapun tidak menyianyiakan kesempatan ini, begitu diterima surat panggilan langsung menghadap ke Kantor di Jalan Dago Bandung dan menandatangani persetujuan untuk di tempatkan di Perkebunan Malabar/Tanara sebagai Calon Sinder Kebun.
Tanggal 15 Januari 1962 saya dijemput oleh sopir karena kebetulan waktu itu Bapak Administraturnya Bapak Oey Keng Boen rapat kerja di Kantor Direksi di Jalan Dago dan dari sana bersama dengan Bapak Administratur berangkat menuju Perkebunan Malabar.Langsung menuju rumah Administratur di Malabar; sekarang adalah quest house P.T.P.Nusantara VIII."
" Setelah makan kita istirahat dulu, lalu kita pergi ke Kantor di Tanara",begitulah kira2 kata bapak Administratur sambil beliau istirahat dan saya menunggu diruang tamu.Sambil nunggu diruang tamu saya ngebayangin rumah segede gitu hanya dihuni oleh 3 orang , pak Oey, ibu Oey dan putra yang bungsu yang laki2, sedang putri yang 3 lagi bersekolah di Bandung. Dari pada bengong nunggu diruang tamu saya lihat2 ruangan sekitar. Ada photo keluarga pak Oey Keng Boen, ada photo pemandangan kalau dilihat seperti di negeri Belanda, ada photo jelas orang Belanda, matanya tajam, bentuk mukanya bulat dan berkumis.......pasti ini Meneer K.A.R.BOSCHA, Administratur pertama Perkebunan Malabar, sambil bergurau dalam hati akupun memperkenalkan diri pada beliau dan akupun ingin seperti beliau jadi Administratur....hahaha. Tapi ingat hayalan anak kecil waktu mendorong mobil karena banjir di Pameungpeuk sebagian sudah terlaksana aku jadi pegawai perkebunan,jadi pegawai ondernimeng, jadi pegawai kontrak, siapa tahu hayalanku akan terlaksana. Bagaimana tidak Perkebunan identik dengan tanaman pasti diperlukan orang-orang yang mempunyai dasar pertanian/perkebunan/kehutanan, sedangkan aku sendiri jebolan SMEA.......mana bisa!!??.
Achirnya aku diterima jadi warga Perkebunan Malabar, setelah aku dikenalkan dengan Staf Perkebunan Malabar.Sebagai orang kedua/ Cheff Anplant/Wakil Administratur adalah Bapak R.Maryun Natadiningrat, Kepala Administrasi Bapak Agoem Sasmita, Kepala Pabrik Bapak Rohadi,Kepala Teknik Bapak R.Soenardi Djayaatmaja,Employe Kebun Bapak R.Hartoyo,Bapak Achmad Djayadikarta,Bapak Kosasih Djenar,Adang Abdurrachman,Bapak E.Uro, Yohan Rugebreght, Kang Asep Ruchiat, Bapak Darmin, Kang Lili Segly, Bapak Andi Wiramiharja, Anis Hadisupeno dan yang lainnya...maaf kalu aku lupa....abis udah hampir 48 tahun yang lalu. Ajiiiir!!.
Penjelasan dari Administratur sebagai calon employe, maka harus mempelajari pengolahan teh, administrasi dan tanaman, sedangkan untuk bidang teknik tidak diharuskan dan dilaksankan secara bergilir.
Giliran pertama saya harus mempelajari pengolahan teh, maka saya ditempatkan di Pabrik dibawah bimbingan Kepala Pabrik Bapak Rohadi dan Sinder Pabrik Bapak Daud. Saya harus mempelajari proses pengolahan teh mulai dari meber, melayukan, menggiling, mengeringkan,pemilihan ,pengepakan dan pengeluaran hasil ahir keluar Pabrik.
Ilmunya harus cari sendiri dengan cara memperhatikan pengolahan,banyak bertanya baik keatasan maupun ke Mandor Besar, Mandor dimana perlu kepada karyawan dan membaca buku-buku. Dan inipun berlaku dibagian lainnya seperti di Administrasi maupun ditanaman.
Beda sekali dengan penerimaan calon pegawai masa kini, selain disesuaikan dasar pendidikannya
kebanyakan sarjana diberi kesempatan mempelajari semua komoditi selama 1 tahun sebelum diangkat jadi pegawai Staf.
Setelah dari Pabrik saya ditempatkan di administrasi untuk mempelajari alur admistrasi di Perkebunan. Yang ada di bagian Administrasi adalah bagian TAtaBuku INduk/Tabin, ada Kasir, ada bagian umum dan ada bagian Gudang. Tidak terlalu sulit karena disini dikerjakan oleh manusia. Belum ada komputer seperti sekarang ini, semua dikerjakan kalau tidak di tik dengan tulisan tangan. Kalkulator masih asing yang ada hanya mesin jumlah.Yang agak canggih ada mesin FACIT dia bisa menambah,mengurangi,membagi asal bisa mengoperasikannya dan tidak semua orang bisa mengoperasikannya.
Laporan-laporan ditulis dengan pencil tinta rangkap dua dengan karbon. Tidak boleh dihapus, jadi jangan salah!
Saya pernah ditugaskan sebagai pemegang kas.Semua keluar masuk uang harus melalui kasir dan kasir hanya dapat mengeluarkan uang setelah disetujui oleh Administratur. Selain mengeluarkan uang saya juga ditugaskan untuk menyimpan dokumen2 yang sifatnya rahasia. Mulai dari surat pengajuan kenaikan pangkat, pengajuan mutasi, surat tegoran kepada Staf dan kondite pegawai staf, surat2 penting lainnya seperti Sertipikat HGU tanah dan yang lain-lainnya yanh sifatnya rahasia. Saya dituntut untuk tidak membocorkan rahasia2 tersebut........Hebat.
Selain itu saya berkewajiban untuk mengambil uang remise untuk keperluan seluruh pembayaran dan keperluan Perkebunan mulai dari membayar Gaji dan Upah karyawan juga membayar kepada pihak ketiga.
Sehari sebelumnya Perkebunan sudah memberitahukan VEEM TANJUNG PRIUK Bandung untuk menjiapkan uang dan kita tinggal mengambilnya di VTP Jalan Braga. Biasanya aku ditemani seorang karyawan dan 2 orang Polisi dari Pos Polisi Malabar sebagai pengawal. Bagaimana tidak pakai pengawal nilai remisenya pada waktu itu cukup besarrrr. Pagi2 sekali sudah berangkat langsung menuju Kantor Direksi di Jalan Dago sambil menyampaikan surat2 dan atau sample teh untuk aucktion dan keperluan lainnya ditiap bagian langsung menuju Kantor Veem Tanjung Priok di Jalan Braga yang sudah menyiapkan segala sesuatunya mulai uang besar sampai uang kecil. Bila kita lapar sambil menunggu giliran menghitung uang kami makan siang ditempat itu juga, karena dari Veem kami langsung menuju Perkebunan tanpa berhenti dijalan, karena uang hari itu juga akan dibayarkan kepada karyawan. Tanpa berhenti dijalan demi keamanan dan keselamatan. Alhamdulillah selama itu tidak pernah mendapat rintangan gangguan keamanan.
Bayangkan kalau tidak jadi bayaran hari itu, siang menjelang sore hari para karyawan sudah pada kumpul di los afdeling;aula tempat kegiatan pembagian beras, bayaran, kesenian,dakwah,pengumuman2 yang peerlu diketahui oleh seluruh karyawan mulai dari progam KB, PKK, Lingkungan untuk mencapai Desa Panca Marga sampai menjadi Desa Pancasila para pedagang sudah memenuhi tempat sekitar los, lengkap mulai dari pedagang keperluan sembako sampai keperluan sandang.
Remise yang saya bawa dari Bandung biasanya diterima dan dihitung kembali di Kantor Administrasi setelah itu baru dibagikan kebagian-bagian dan harus diambil,oleh Kepala Bagian/Employe dan di afdeling dibayarkan mandor per mandor. Sebelum dibagikan, maka harus dihitung dulu per mandor setelah cocok baru dibayarkan kepada karyawan per mandor. Pada waktu bayaran saya kadang2 tidak mengenal lagi karyawan saya, karena mereka yang biasanya berbalut pakaian kerja pada waktu bayaran berubah kaya mau ada perayaan. Gadis2 pada berdandan dengan pakaian yang terbagus,perhiasan mulai dari kalung anting dan gelang dipakai tidak ketinggalan lippen yang merah membara demikian pula harum miyak wangi. Tak ketinggaln pula mereka2 yang setengah baya dan samppai yang sudak nenek2 memamerkan kecantikannya.
Kapan lagi dipamerkan, setiap hari sibuk kerja. Mau kekota? tranportasi dan komunikasi tidak semudah sekarang. Wah aku senang aja, apalagi lihat gadis2nya pada centil abis kepala bagiannya masih lajang. Hahaha.
" Setelah makan kita istirahat dulu, lalu kita pergi ke Kantor di Tanara",begitulah kira2 kata bapak Administratur sambil beliau istirahat dan saya menunggu diruang tamu.Sambil nunggu diruang tamu saya ngebayangin rumah segede gitu hanya dihuni oleh 3 orang , pak Oey, ibu Oey dan putra yang bungsu yang laki2, sedang putri yang 3 lagi bersekolah di Bandung. Dari pada bengong nunggu diruang tamu saya lihat2 ruangan sekitar. Ada photo keluarga pak Oey Keng Boen, ada photo pemandangan kalau dilihat seperti di negeri Belanda, ada photo jelas orang Belanda, matanya tajam, bentuk mukanya bulat dan berkumis.......pasti ini Meneer K.A.R.BOSCHA, Administratur pertama Perkebunan Malabar, sambil bergurau dalam hati akupun memperkenalkan diri pada beliau dan akupun ingin seperti beliau jadi Administratur....hahaha. Tapi ingat hayalan anak kecil waktu mendorong mobil karena banjir di Pameungpeuk sebagian sudah terlaksana aku jadi pegawai perkebunan,jadi pegawai ondernimeng, jadi pegawai kontrak, siapa tahu hayalanku akan terlaksana. Bagaimana tidak Perkebunan identik dengan tanaman pasti diperlukan orang-orang yang mempunyai dasar pertanian/perkebunan/kehutanan, sedangkan aku sendiri jebolan SMEA.......mana bisa!!??.
Achirnya aku diterima jadi warga Perkebunan Malabar, setelah aku dikenalkan dengan Staf Perkebunan Malabar.Sebagai orang kedua/ Cheff Anplant/Wakil Administratur adalah Bapak R.Maryun Natadiningrat, Kepala Administrasi Bapak Agoem Sasmita, Kepala Pabrik Bapak Rohadi,Kepala Teknik Bapak R.Soenardi Djayaatmaja,Employe Kebun Bapak R.Hartoyo,Bapak Achmad Djayadikarta,Bapak Kosasih Djenar,Adang Abdurrachman,Bapak E.Uro, Yohan Rugebreght, Kang Asep Ruchiat, Bapak Darmin, Kang Lili Segly, Bapak Andi Wiramiharja, Anis Hadisupeno dan yang lainnya...maaf kalu aku lupa....abis udah hampir 48 tahun yang lalu. Ajiiiir!!.
Penjelasan dari Administratur sebagai calon employe, maka harus mempelajari pengolahan teh, administrasi dan tanaman, sedangkan untuk bidang teknik tidak diharuskan dan dilaksankan secara bergilir.
Giliran pertama saya harus mempelajari pengolahan teh, maka saya ditempatkan di Pabrik dibawah bimbingan Kepala Pabrik Bapak Rohadi dan Sinder Pabrik Bapak Daud. Saya harus mempelajari proses pengolahan teh mulai dari meber, melayukan, menggiling, mengeringkan,pemilihan ,pengepakan dan pengeluaran hasil ahir keluar Pabrik.
Ilmunya harus cari sendiri dengan cara memperhatikan pengolahan,banyak bertanya baik keatasan maupun ke Mandor Besar, Mandor dimana perlu kepada karyawan dan membaca buku-buku. Dan inipun berlaku dibagian lainnya seperti di Administrasi maupun ditanaman.
Beda sekali dengan penerimaan calon pegawai masa kini, selain disesuaikan dasar pendidikannya
kebanyakan sarjana diberi kesempatan mempelajari semua komoditi selama 1 tahun sebelum diangkat jadi pegawai Staf.
Setelah dari Pabrik saya ditempatkan di administrasi untuk mempelajari alur admistrasi di Perkebunan. Yang ada di bagian Administrasi adalah bagian TAtaBuku INduk/Tabin, ada Kasir, ada bagian umum dan ada bagian Gudang. Tidak terlalu sulit karena disini dikerjakan oleh manusia. Belum ada komputer seperti sekarang ini, semua dikerjakan kalau tidak di tik dengan tulisan tangan. Kalkulator masih asing yang ada hanya mesin jumlah.Yang agak canggih ada mesin FACIT dia bisa menambah,mengurangi,membagi asal bisa mengoperasikannya dan tidak semua orang bisa mengoperasikannya.
Laporan-laporan ditulis dengan pencil tinta rangkap dua dengan karbon. Tidak boleh dihapus, jadi jangan salah!
Saya pernah ditugaskan sebagai pemegang kas.Semua keluar masuk uang harus melalui kasir dan kasir hanya dapat mengeluarkan uang setelah disetujui oleh Administratur. Selain mengeluarkan uang saya juga ditugaskan untuk menyimpan dokumen2 yang sifatnya rahasia. Mulai dari surat pengajuan kenaikan pangkat, pengajuan mutasi, surat tegoran kepada Staf dan kondite pegawai staf, surat2 penting lainnya seperti Sertipikat HGU tanah dan yang lain-lainnya yanh sifatnya rahasia. Saya dituntut untuk tidak membocorkan rahasia2 tersebut........Hebat.
Selain itu saya berkewajiban untuk mengambil uang remise untuk keperluan seluruh pembayaran dan keperluan Perkebunan mulai dari membayar Gaji dan Upah karyawan juga membayar kepada pihak ketiga.
Sehari sebelumnya Perkebunan sudah memberitahukan VEEM TANJUNG PRIUK Bandung untuk menjiapkan uang dan kita tinggal mengambilnya di VTP Jalan Braga. Biasanya aku ditemani seorang karyawan dan 2 orang Polisi dari Pos Polisi Malabar sebagai pengawal. Bagaimana tidak pakai pengawal nilai remisenya pada waktu itu cukup besarrrr. Pagi2 sekali sudah berangkat langsung menuju Kantor Direksi di Jalan Dago sambil menyampaikan surat2 dan atau sample teh untuk aucktion dan keperluan lainnya ditiap bagian langsung menuju Kantor Veem Tanjung Priok di Jalan Braga yang sudah menyiapkan segala sesuatunya mulai uang besar sampai uang kecil. Bila kita lapar sambil menunggu giliran menghitung uang kami makan siang ditempat itu juga, karena dari Veem kami langsung menuju Perkebunan tanpa berhenti dijalan, karena uang hari itu juga akan dibayarkan kepada karyawan. Tanpa berhenti dijalan demi keamanan dan keselamatan. Alhamdulillah selama itu tidak pernah mendapat rintangan gangguan keamanan.
Bayangkan kalau tidak jadi bayaran hari itu, siang menjelang sore hari para karyawan sudah pada kumpul di los afdeling;aula tempat kegiatan pembagian beras, bayaran, kesenian,dakwah,pengumuman2 yang peerlu diketahui oleh seluruh karyawan mulai dari progam KB, PKK, Lingkungan untuk mencapai Desa Panca Marga sampai menjadi Desa Pancasila para pedagang sudah memenuhi tempat sekitar los, lengkap mulai dari pedagang keperluan sembako sampai keperluan sandang.
Remise yang saya bawa dari Bandung biasanya diterima dan dihitung kembali di Kantor Administrasi setelah itu baru dibagikan kebagian-bagian dan harus diambil,oleh Kepala Bagian/Employe dan di afdeling dibayarkan mandor per mandor. Sebelum dibagikan, maka harus dihitung dulu per mandor setelah cocok baru dibayarkan kepada karyawan per mandor. Pada waktu bayaran saya kadang2 tidak mengenal lagi karyawan saya, karena mereka yang biasanya berbalut pakaian kerja pada waktu bayaran berubah kaya mau ada perayaan. Gadis2 pada berdandan dengan pakaian yang terbagus,perhiasan mulai dari kalung anting dan gelang dipakai tidak ketinggalan lippen yang merah membara demikian pula harum miyak wangi. Tak ketinggaln pula mereka2 yang setengah baya dan samppai yang sudak nenek2 memamerkan kecantikannya.
Kapan lagi dipamerkan, setiap hari sibuk kerja. Mau kekota? tranportasi dan komunikasi tidak semudah sekarang. Wah aku senang aja, apalagi lihat gadis2nya pada centil abis kepala bagiannya masih lajang. Hahaha.
Jumat, 20 November 2009
BEKERJA DI PADI SENTRA
Alhamdulillah setelah 3 tahun jadi anak kereta, sekolahku selesai di SMEA Tasik. Pada bulan Juli 1961 saya pindah ke Bandung berkumpul lagi dengan keluarga yang sudah lebih dahulu pindah. Rumahku di Jalan H.Rais Pasundan numpang dirumah ua, karena rumahnya kebetulan besar dan hanya dididiami oleh putranya. Jadilah saya orang Bandung, adaptasi dengan teman2 bermain , adaptasi dengan lingkungan.Bandung tea atuh beda dengan Ciamis. Memang sudah diniatkan, bahwa saya tidak akan melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi, biarlah, agar adik2ku juga bisa mengecam pendidikan yang lebih tinggi. Gaulku dengan para mahasiswa yang kuliah di Bandung, tapi mereka tinggal dirumahnya masing-masing bukan anak kost.
Waktu itu sedang rame2nya pingpong. Dimana-mana muncul klub2 pingpong, termasuk dilingkungan sayapun ada club pingpong yang disponsori oleh........ibuku sendiri. Jadilah tiada waktu tanpa pingpong, setiap hari diisi dengan pingpong atau kadang2 pertandingan dengan klub2 lainya yang ada sekitar Bandung.Mudah2an kang Ajat Sudrajat masih mengenang ibu Basar.
Tidak lama mengenyam hawa Bandung, bulan Oktober 1961 saya diterima bekerja di Padi Sentra dan ditempatkan di Pameungpeuk. Jadilah saya kembali ke Pameungpeuk tinggal bersama kakek. Kantor Padi Setra Pameungpeuk merangkap gudang, terletak di Bojong manggu didepan pabrik KTSM sekarang. Dahulu belum ada pabrik2 kanan kiri depan belakang sawah dan sawah paling2 satu dua rumah.Kalau dari kantor melihat kesebelah Selatan, terlihat Gunung Malabar berdiri dengan gagahnya dan melihat kesebelah utara terbentang sawah-sawah. Malah halteu Pameungpeukpun terlihat jelas dari kantor.......dahulu, sekarang yang kelihatan cuma pabrik...pabrik...dan rumah2. Sebelah Timur gunung Pipisan masih berdiri tegak dan merupakan gunung batu yang sekarang sudah habis batu2nya dipergunakan untuk pembuatan jalan, pembangunan pabrik2 di sekitar Bandung.
Namanya juga Padi sentra, tugasku melayani para petani padi memenuhi keperluannya untuk menanam padi seperti rabuk , obat2an dan bibit padi juga memberi penyuluhan cara menanam padi yang benar sehingga produksi per ha meningkat. Dimana perlu kamipun mendrop rabuk langsung ketempat petani dengan menggunakan truk.
Pada waktu pertama masuk kerja saya masih dianggap sebagai tenaga percobaan belum diangkat sebagai karyawan penuh. Tapi walau demikian saya sudah dapat cicilan speda. Bukan motor coy. Belum rame2 motor pada waktu itu mah. Lumayan untuk keliling melihat para petani bekerja dan untuk melihat kebenarannya pupuk tsb. digunakan; karena tidak jarang ada petani yang mengunakannya sebagian dari jatahnya dan sebagian lagi .......dijual. Aya2 wae bade naek produksi kumaha ari pupukna dikirangan mah. Itulah tugas bagian penyuluhan.
Enak sih enak bekerja di Padi Sentra Pameungpeuk teh. Tidak enak bagaimana tinggal di kakek, makan sudah disediakan nenek, gaji utuh sebesar Rp.750,--
Tidak lama saya bekerja di Padi Sentra hanya sekitar 3 bulan, karena saya mendapat panggilan untuk bekerja di Perusahaan lain. Maaf pada waktu itu saya belum begitu akrab dengan teman2 di Padi Sentra Pameungpeuk dan sekarangpun saya lupa siapa2 saja teman2 waktu di Pameungpeuk. Maafkan ya. Oh ya saya ingat sekarang mah, aya kang Engkus Jabog, kang Nadi, kang Garnama dan Endang. Dimarana nya? Da kang Engkus Jabog mah udah meninggal dunia.
Waktu itu sedang rame2nya pingpong. Dimana-mana muncul klub2 pingpong, termasuk dilingkungan sayapun ada club pingpong yang disponsori oleh........ibuku sendiri. Jadilah tiada waktu tanpa pingpong, setiap hari diisi dengan pingpong atau kadang2 pertandingan dengan klub2 lainya yang ada sekitar Bandung.Mudah2an kang Ajat Sudrajat masih mengenang ibu Basar.
Tidak lama mengenyam hawa Bandung, bulan Oktober 1961 saya diterima bekerja di Padi Sentra dan ditempatkan di Pameungpeuk. Jadilah saya kembali ke Pameungpeuk tinggal bersama kakek. Kantor Padi Setra Pameungpeuk merangkap gudang, terletak di Bojong manggu didepan pabrik KTSM sekarang. Dahulu belum ada pabrik2 kanan kiri depan belakang sawah dan sawah paling2 satu dua rumah.Kalau dari kantor melihat kesebelah Selatan, terlihat Gunung Malabar berdiri dengan gagahnya dan melihat kesebelah utara terbentang sawah-sawah. Malah halteu Pameungpeukpun terlihat jelas dari kantor.......dahulu, sekarang yang kelihatan cuma pabrik...pabrik...dan rumah2. Sebelah Timur gunung Pipisan masih berdiri tegak dan merupakan gunung batu yang sekarang sudah habis batu2nya dipergunakan untuk pembuatan jalan, pembangunan pabrik2 di sekitar Bandung.
Namanya juga Padi sentra, tugasku melayani para petani padi memenuhi keperluannya untuk menanam padi seperti rabuk , obat2an dan bibit padi juga memberi penyuluhan cara menanam padi yang benar sehingga produksi per ha meningkat. Dimana perlu kamipun mendrop rabuk langsung ketempat petani dengan menggunakan truk.
Pada waktu pertama masuk kerja saya masih dianggap sebagai tenaga percobaan belum diangkat sebagai karyawan penuh. Tapi walau demikian saya sudah dapat cicilan speda. Bukan motor coy. Belum rame2 motor pada waktu itu mah. Lumayan untuk keliling melihat para petani bekerja dan untuk melihat kebenarannya pupuk tsb. digunakan; karena tidak jarang ada petani yang mengunakannya sebagian dari jatahnya dan sebagian lagi .......dijual. Aya2 wae bade naek produksi kumaha ari pupukna dikirangan mah. Itulah tugas bagian penyuluhan.
Enak sih enak bekerja di Padi Sentra Pameungpeuk teh. Tidak enak bagaimana tinggal di kakek, makan sudah disediakan nenek, gaji utuh sebesar Rp.750,--
Tidak lama saya bekerja di Padi Sentra hanya sekitar 3 bulan, karena saya mendapat panggilan untuk bekerja di Perusahaan lain. Maaf pada waktu itu saya belum begitu akrab dengan teman2 di Padi Sentra Pameungpeuk dan sekarangpun saya lupa siapa2 saja teman2 waktu di Pameungpeuk. Maafkan ya. Oh ya saya ingat sekarang mah, aya kang Engkus Jabog, kang Nadi, kang Garnama dan Endang. Dimarana nya? Da kang Engkus Jabog mah udah meninggal dunia.
Selasa, 17 November 2009
CIAMIS KOTA MANIS

Karena Ciamis merupakan kota kecil;pada waktu itu, maka hubungan antar pribadi2 terutama orang tua dekat sekali. Tak heran para orang tua sering kumpul2 kalau tak di Sositet atau dirumah masing2 bergiliran..........main Bridge. Saya paling senang kalau ikut di Sositet, karena sambil menunggu yang bridge saya sendiri minum es dan soto. Sositet letaknya diujung alun2 berdampingan dengan Kantor Pos hanya terhalang oleh jalan raya saja.Ada pak Bupati, ada pak Sekda, ada Komandan CPM, ada Kepala Polisi, ada Kepala Jawatan, ada guru, ada pengusaha dan ada pedagang berkumpul main bridge.
Pendopo tempat tinggal Bapak Bupati, biasanya kalau sore hari ramai oleh mereka yang latihan tari, suara gamelan terdengar sampai dijalan raya meramaikan kota kecil.
Olah raga lainnya adalah pingpong dan bulu tangkis,patut diperhitungkan pada waktu itu. Demikian pula Sepak bola, banyak anak2 Ciamis yang ditampung di Putra Priangan dan yang paling hebat juga adalah Bola Volley. Mudah2an sekarangpun olah raga dan kebudayaan dan kesenian Ciamis perlu diperhitungkan. Ada ketuk tilu cikal bakalnya ti Ciamis .
Gadis2nya jangan ditanya lagi cantik2nya; cantik ceuk ukuran budak SMP. Kalau ada yang cantik pasti anak dari Cisontrol. Heemm...Heemm. Sayang selama 8 tahun ada di Ciamis tidak punya pacar urang Ciamis, padahal masa remajaku rasanya saya ini orang Ciamis.
Waktu tinggal di Bolenglang teman bermain saya adalah dari keluarga Wa Anwar. Termasuk keluarga besar juga, sehingga kalau bermain bergabung cukuplah untuk bermain volley. Selain itu dirumahnya ada kolam, sehingga kalau akan pulang mancing dulu atau nyair dulu banyak boncenang, lumayan untuk makan malam.
Waktu di Ambarjiwa senang dan sedihnya kalau sudah musim kemarau. Sumur pada saat,kering sehingga kalau mau mandi harus keliling dulu, kalau tidak di Situ di Kalapajajar di pancuran dekat jembatan kereta api jalan yang akan kerumah sakit atau mandi di sungai Cileueur.
Hari minggu tugas pokokku adalah mencuci pakaian keluarga satolombong mentung dan mencucinya di sungai Cileueur lumayan jauh dari rumah harus lewat Panoongan dulu baru sampai ke Cileueur. Senangnya pada waktu itu semua tumplek ke Cileueur sambil nyuci bisa sambil ngeceng gadis2 Ciamis yang juga pada nyuci di Cileueur. Pulang nyuci, pasti singgah dulu kerumah wa Sukarya, sahabatnya orangtuaku, kalau tidak minum ya minta makan, karena keluarga kami sudah tidak asa2 lagi dan ahirnya 1o tahun kemudian setelah ada di Bandung jadi besan orang tuaku, karena salah satu putrinya nikah dengan adiku.
Banyak kenangan saya di Ciamis, tapi ya itulah kehilangan komunikasi,sehingga entah dimana teman2ku, baik yang kenal maupun yang mengenal saya. Ada rasa rindu ingin bertemu, walaupun mungkin untuk berpergian harus dikawal kalau tidak oleh anak ya cucu. Mudah2an ada yang masih mengenalku..........teriring salam rindu.
Menjelang kelas 3 di SMEA, ayahku dipindahkan ke Bandung di Inspeksi Kebudayaan Jawa Barat, karena tanggung maka saya sendiri masih tinggal di Ciamis dan tinggal di rumahnya mang Sambas Rivai, Kepala Agraria Ciamis caritana mah indekost, tapi da tara mayar malah diongkosan abonemen kereta api. Kamarana putra putrina, dan mang Sambas na mah sudah meninggal waktu di Tasik.
Masih ada cerita di kereta api, kalakuan anak kereta api. Kalau pekerjaan rumah tidak dikerjakan,karena kecapaian, biasana mah absen sakola. Berangkat sekolah ya berangkat, tapi sampai Manonjaya turun,nanti pulangnya sama2 lagi. Tapi tetap pekerjaan rumah dikerjakan, da pasti besoknya ditanyakan sama guru.
Dari Manonjaya banyak pelajar yang bersekolah di Tasikmalaya diantaranya pelajar SKP,pasti putri2 dan cantik2 lho. Mulailah pasang aksi cari jasa disuruh duduk dibangku kami dibelaan berdiri. Anak SMA/SMEA pasarannya tinggi, karena belum ada sekolah yang lebih tinggi lagi. SMEA wae baru angkatan kedua, mani asa pang akangna.
Pulangnyapun demikian kami sediakan tempat duduk. Ada perjanjian tidak tertulis kalau bangku2 kereta sudah ada tanda baik oleh tas atau buku tidak boleh diduduki oleh siapapun. Jadilah buku dijejerkan diatas bangku untuk mancing anak2 SKP atau siapapun yang merasa cantik agar mau menduduki bangku yang sudah kita beri tanda. Ada2 saja!
Di Tasik pula hatiku tertarik putri Tasik, orangnya tinggi,rambutna panjang anak SMAN. Bertemu gara2 pertandingan pingpong antar club Ciamis dengan club Tasik dan saya salah seorang pemainnya dan diapun pemain putrinya. Pertemuan berlanjut sehingga saya tahu rumahnya kalau mau sekolah pasti lewat pintu kereta api jalan Pancasila. Asyiknya kalau kereta api mau masuk stasiun Tasik pasti diperlambat dipintu kereta itu, nah disanalah dia sudah menunggu dengan spedanya menunggu kereta lewat. Nah kesempatan inilah digunakan hanya untuk......... dadahdadah. Senangnya bukan main.
Setelah diketahui nama ,kelas berapa mulailah surat2an dan yang menjadi perantara adalah teman sekereta anak SMA. Sekarang mah sudah jadi PRof. Jadilah keretas merah muda jadi sarana surat2an."Perteman" terus berlangsung sampai aku bekerja sedang diaterus sekolah dan sudah kelas 3. Disinilah ketahui, bahwa dia itu anak yang pintar dan cerdas dan bercita-cita untuk jadi Dokter, sedangkan aku sudah bisa kerja juga sudah untung tidak ada cita2 untuk meneruskan sekolah, maklum saja adik2ku berapa orang yang perlu pendidikan, sedang ayahku hanya seorang Pegawai Negeri pada waktu itu mah ripuuuuh. Jadilah aku berteman terus tanpa TM, apalagi mottonya adalah " to be or to get a doctor " dan alhamdulillah cita2nya kesampaian jadi dokter dan dapat dokter. Selamat!!
Itulah kenangan manis waktu saya berada di kota Ciamis kenangan yang tak mungkin kulupakan.
Saya berada di Ciamis sejak 1953 dan meninggalkan Ciamis tahun 1961. Saya belum cerita soal ONOM ya? Baik nanti saja ya!!
IKATAN KUNTUM MEKAR TJIAMIS

Untuk menyalurkan hobi,kreatifitas dan aktifitas muda-mudi yang ada di Ciamis kami bergabung dengan Ikatan Kuntum Mekar Tjiamis (IKUMTI ). Penggagas dari Ikatan Kuntum Mekar ini adalah para pengasuh Lembaran Remaja yang ada di Harian Pikiran Rakyat yakni KUNTUM MEKAR. Setiap Kabupaten pasti ada Ikatan ini, dimulai dari Bandung dengan IKUMBA,IKUMTI,IKUMTAS,IKUMSU,IKUMSI dan Ikum-ikum lainnya. Sedangkan IKUMTI bermarkas di rumah saya di Jalan Tengah no.14. Sekarang jalan apa ya? Yang saya tahu para penggagas di Pikiran Rakyat, yang waktu itu merupakan wartawan2 yunior, Kang Mien R, kang Warsono,kang Habibun yang saya dengar sudah pada meninggal dunia dan yang masih ada yang saya tahu adalah Bang Syafik Umar dan masih ada di PR. Apa kabar bos, mudah2an masih ingat saya SI KUS.
Alhamdulilah dengan tersalurkannya dalam Ikatan, kenakalan2 remaja dapat diminimalis,karena diarahkan dengan kegiatan2 yang positif didaerah masing2.Rasanya harmonis hubungan antar anggauta demikian pula hubungan antar Ikum. Bisa rekreasi bersama, berdiskusi, pembacaan sajak, pertandingan persahabatan........Indah sekali. Dan yang lebih menggembirakan tidak sedikit para alumni IKUM yang berhasil.......Siap ada Jendral, Profesor, Walikota, Dokter,Direktur,Pengusaha......Kapan Bang Syafik mau ngumpulin kite2 ini yang sudah pada AQ AQ.
Maaf banyak yang sudah lupa, maklum dibuatnya sekarang setelah hampir 50 tahun. Iseng2 sambil nungguin cucu mengingat-ingat kejadian2 yang lalu.Dari pada mikirin Polri,Kejagung,KPK, DPR, malah makin ruwet takut tensi naik, makanya menulis apa adanya yang masih ingat. Maaf yaa.
Langganan:
Postingan (Atom)