Bekerja di Pabrik kalau tidak hati2 risiko terjadi kecelakaan bisa saja terjadi.Bisa tangan tergulung oleh ban berjalan, tangan tergiling oleh mesin giling, rambut bisa tergulung oleh as mesin yang sedang berputar, atau sarung tergulung oleh as mesin yang sedang berputar dan atau muka tersembur api dari mesin pengeringan. Hal ini terjadi pada diriku tersembur api dari mesin pengeringan. Kejadiaannya pada bulan Agustus pada musim kering, dimana temperatur sangat rendah, sehingga solar/IDO untuk mesin pengeringan membeku. Tidak solar saja yang membeku dilapanganpun ditempat-tempat tertentu terjadi "frost" dimana udara sangat dingin sehingga membentuk butiran es yang menempel di pohon teh yang mengakibatkan daun teh menjadi kering.
Pada waktu itu udara sangat dingin, sehingga solar/IDO yang dialirkan melalui pipa2 kedapur pengeringan tersendat-sendat, sehingga nyala apinya tidak lancar, padahal sudah diusahakan dengan memanaskan pipa2 tersebut. Hal inipun terjadi pada mesin pengeringan nomor 4 PARAGON. Kadang2 nyalanya normal kadang2 tersendat-sendat dan ahirnya mati. Kebetulan aku sedang berada disana maka aku datangi mesin pengeringan tsb. Prosudernya kalau mati,maka aliran solarnya harus ditutup, begitu pula pada waktu itu sewaktu akan aku tutup dan dilihat dari lobang kontrol yang kecil, tiba2 terjadi semburan api yang keluar dari lubang kontrol tsb.yang sedang aku lihat. Akibatnya aku terpelanting kebelakang hampir 3 meter dan api itu menyambar mukaku. Untungnya karena pagi hari masih dingin aku masih mengenakan selain baju juga mengenakan fullover yang sedikit menutupi wajahku. Lumayan aku masuk rumah sakit Pasir Yunghuhn,karena kata dokter masih stadium 1 , maka pengobatannya mukaku diberi obat merah jadilah mukaku kaya si Cepot. Ramailah para suster ingin melihat mukaku atau mau melihatku yang masih lajang. Ada-ada saja.
Pengalaman hidup sejak kecil, dewasa,sekolah,bekerja,pensiun dan menjalani sisa hidup.
Kamis, 09 September 2010
Jumat, 16 April 2010
Gelanggang Olah Raga Dinamika
Setelah bekas Pabrik Malabar di renovasi dijadikan Gelanggang Olah Raga Dinamika, maka segala kegiatan yang memerlukan tempat yang luas diselenggarakan di Gelora Dinamika Malabar, karena Gelora bisa menampung orang kurang lebih 2.000 orang. Pertunjukan kesenian,pertandingan bulutangkis, pertunjukan wayang golek, pemutaran film, rapat2 umum dapat dilaksanakan di Gelora ini, termasuk pada waktu Pekan Olah Raga Perusahaan Perkebunan Negara se Indonesia pada tahun 1965. Pembangunan Gelora Dinamika cukup membanggakan,karena dikerjakan sendiri oleh Perkebunan yang dimotori oleh Mas Sunardi, kang Asep Ruchiat, kang Abung dan rekan2nya, sesuai dengan semangat pada waktu itu Berdiri diatas kaki sendiri. Pernah pula diselenggarakan Pameran Pembangunan untuk menjawab tantangan berdiri diatas kaki sendiri dengan diembargonya produk2 Indonesia, diboikotnya harga 2 komoditi perkebunan dan Partai Komunis Indonesia mulai menggelitik melalui Sarbupri nya dengan usulan2an yang nyeleneh pada waktu itu.
Alhamdulillah berkat Ridhonya Perkebunan tetap eksis. Perkebunan yang ditingalkan bule2 dengan perhitungan mereka karena ditinggalkan oleh mereka Perkebunan akan hancur, tetap menjadi andalan Pemerintah sebagai penyumbang devisa bagi Negara . Produksi terus meningkat demikian pula kwalitasnya. Terobosan2 pemasaran dilaksanakan demi tercapainya devisa negara dan demi menciptakan kepercayaan negara lain, bahwa Perkebunan masih ada.
Dari tahun ketahun anak2 usia sekolah makin bertambah. Anak2 lulusan SD makin banyak sedangkan sekolah lanjutannya tidak ada; yang akan melanjutkan sekolah yang lebih tinggi harus pergi ke Pangalengan. Mungkin dengan pertimbangan2 tsb.para pembuat keputusan dalam hal ini Direksi, maka Gelora Dinamika di renovasi jadi bangunan SD dan SMP. Alhamdulillah lulusan2 dari SMP sudah banyak yang jadi Mandor, Mandor Besar dan ada pula yang sudah menjadi Kepala Bagian, siapa tahu suatu saat jebolan SD/SMP Malabar menjadi Direktur, sesuatu yang mungkin terjadi, karena yang menjadi sarjana mah sudah banyak.
Makanya sangat sedih waktu ada Penjabat yang mengecilkan arti Perkebunan, Perkebunan akan ditutup. Bagi2 saja lahannya untuk rakyat. Apa Perkebunan? Akibatnya banyak lahan2 perkebunan yang diserobot, pohon karet ditebang, pohon teh dibongkar, tanah cadangan ditanami liar dengan dalih, HGU sudah habis, tanah tidur. Sedih....sedih sekali. Ko teganya...teganya. Untungnya aku sudah pensiun jadi tidak banyak urusan dengan penyerobot2.
Alhamdulillah berkat Ridhonya Perkebunan tetap eksis. Perkebunan yang ditingalkan bule2 dengan perhitungan mereka karena ditinggalkan oleh mereka Perkebunan akan hancur, tetap menjadi andalan Pemerintah sebagai penyumbang devisa bagi Negara . Produksi terus meningkat demikian pula kwalitasnya. Terobosan2 pemasaran dilaksanakan demi tercapainya devisa negara dan demi menciptakan kepercayaan negara lain, bahwa Perkebunan masih ada.
Dari tahun ketahun anak2 usia sekolah makin bertambah. Anak2 lulusan SD makin banyak sedangkan sekolah lanjutannya tidak ada; yang akan melanjutkan sekolah yang lebih tinggi harus pergi ke Pangalengan. Mungkin dengan pertimbangan2 tsb.para pembuat keputusan dalam hal ini Direksi, maka Gelora Dinamika di renovasi jadi bangunan SD dan SMP. Alhamdulillah lulusan2 dari SMP sudah banyak yang jadi Mandor, Mandor Besar dan ada pula yang sudah menjadi Kepala Bagian, siapa tahu suatu saat jebolan SD/SMP Malabar menjadi Direktur, sesuatu yang mungkin terjadi, karena yang menjadi sarjana mah sudah banyak.
Makanya sangat sedih waktu ada Penjabat yang mengecilkan arti Perkebunan, Perkebunan akan ditutup. Bagi2 saja lahannya untuk rakyat. Apa Perkebunan? Akibatnya banyak lahan2 perkebunan yang diserobot, pohon karet ditebang, pohon teh dibongkar, tanah cadangan ditanami liar dengan dalih, HGU sudah habis, tanah tidur. Sedih....sedih sekali. Ko teganya...teganya. Untungnya aku sudah pensiun jadi tidak banyak urusan dengan penyerobot2.
Rabu, 14 April 2010
JADI BODOR REOG
Sudah menjadi kebiasaan tak tertulis, siapa yang menjadi Kepala Bagian Malabar Selatan harus menjadi Kepala Kampung Emplasemen Malabar. Emplasemen Malabar cukup luas juga terdiri dari 14 R.T.dan kalau aku berkeliling mengontrol emplasemen cukup melelahkan dan pasti saja habis keliling....perut lapar. Setiap Emplasemen mempunyai mesjid dan Poliklnik. Ada aula tempat karyawan bayaran dan pertunjukan kesenian,pemutran film keliling sebulan sekali dan untuk keperluan lainnya yang perlu dihadiri oleh banyak karyawan. Di Aula inilah penyuluhan mengenai Keluarga Berencana, Desa Panca Marga dan hal2 yang perlu diketahui oleh masyarakat disampaikan. Ada pula Radio Umum, karena belum semua karyawan mempunyai radio apalagi televisi. Biasanya aula ini akan penuh oleh karyawan pada malam Minggu, karena ada Wayang Golek di radio.Memang pertunjukan wayang golek sangat populer bagi karyawan Perkebunan, makanya pada waktu hari Raya Idulfitri seperti harus menyelenggarakan pertunjukan wayang golek, walaupun mereka harus mengeluarkan iuran bersama. Di aula inilah tempatnya. Kalau saja tidak ada pertunjukan Wayang Golek bisa-bisa di demo kalau cara sekarang mah. Mereka akrab dengan nama2 dalang pada waktu itu ada Parta suwanda,Hadi, R.Sunarya, Asep,Amung, Omay dan yang lainnya. Demikian pula dengan sinden2nya,mereka lebih mengenal Upit Sarimanah, Titim Patimah dan sinden2 beken lainnya pada waktu itu, karena hampir setiap saat radio akan memutar lagu2 mereka. Belum ada dangdut pada waktu itu mah.
Setiap Emplasemen mempunyai seperangkat gamelan dan pada waktu2 tertentu untuk mengisi kesepian di Perkebunan diadakan pertunjukan gamelan dari karyawan untuk karyawan dengan sinden lokal; biasanya pemetik yang kalau bekerja suka ngahaleuang. Bisa dikatakan gamelan ini adalah warisan dari juragan2 kontrak dahulu, karena pada waktu itu bagi kebun2 yang dekat ke Pabrik, para pemetik akan menimbang pucuknya langsung ke Pabrik dan selama penimbangan itu akan diiringi dengan tabuhan gamelan yang ditabuh di panggung diperempatan jalan masuk ke Pabrik.
Rumahku besar, maka sekali-kali latihan kesenian itu diselenggarakan dirumah.Kalau tidak menabuh gamelan, nyalung atau ngareog. Karena aku ingin bisa ngareog, maka aku ikut berlatih ngareog, banyak filosofi dari ngareog ini dan aku dijadikan tukang reog yang suka bikin onar, jadilah aku..........bodor reog. Aula itu akan penuh sesak oleh para karyawan mulai dari nenek2 dan aki2, para perawan tingting kalau tahu bahwa aku akan ngareog, bagaimana tidak yang ngareognya Kepala Bagian, Kepala Kampungnya, masih lajang dan..............ganteng! Maunya. Geer ni jeeee. Kenapa aku mau jadi bodor reog?? Ternyata dengan pertunjukkan kesenian mudah sekali mengumpulkan orang banyak dan disanalah aku menyampaikan secara tidak langsung misi dari Perusahaan . Mudah2an kesenian ini masih berlanjut diteruskan oleh penggantiku. Semoga.
Setiap Emplasemen mempunyai seperangkat gamelan dan pada waktu2 tertentu untuk mengisi kesepian di Perkebunan diadakan pertunjukan gamelan dari karyawan untuk karyawan dengan sinden lokal; biasanya pemetik yang kalau bekerja suka ngahaleuang. Bisa dikatakan gamelan ini adalah warisan dari juragan2 kontrak dahulu, karena pada waktu itu bagi kebun2 yang dekat ke Pabrik, para pemetik akan menimbang pucuknya langsung ke Pabrik dan selama penimbangan itu akan diiringi dengan tabuhan gamelan yang ditabuh di panggung diperempatan jalan masuk ke Pabrik.
Rumahku besar, maka sekali-kali latihan kesenian itu diselenggarakan dirumah.Kalau tidak menabuh gamelan, nyalung atau ngareog. Karena aku ingin bisa ngareog, maka aku ikut berlatih ngareog, banyak filosofi dari ngareog ini dan aku dijadikan tukang reog yang suka bikin onar, jadilah aku..........bodor reog. Aula itu akan penuh sesak oleh para karyawan mulai dari nenek2 dan aki2, para perawan tingting kalau tahu bahwa aku akan ngareog, bagaimana tidak yang ngareognya Kepala Bagian, Kepala Kampungnya, masih lajang dan..............ganteng! Maunya. Geer ni jeeee. Kenapa aku mau jadi bodor reog?? Ternyata dengan pertunjukkan kesenian mudah sekali mengumpulkan orang banyak dan disanalah aku menyampaikan secara tidak langsung misi dari Perusahaan . Mudah2an kesenian ini masih berlanjut diteruskan oleh penggantiku. Semoga.
Selasa, 09 Maret 2010
BODYGUARDKU MANG UKAN
Sebagai Kepala Bagian Kebun, maka aku berhak mendiami rumah dinas.Lumayan besar untuk ukuran aku yang masih bujangan, ada 2 kamar tidur, 2 kamar mandi , gudang, dapur dan ruang keluarga,ruang tamu dan ruang makan bersatu, sehingga ruangan itu terlihat cukup luas. Lantainya dari kayu yang kalau kita berjalan akan terdengar duk....duk....duk. Walaupun masih bujangan berhak pula untuk mendapat pelayan rumah untuk mengurus rumah tanggaku. Pelayanku adalah mang Ukan, orangnya lugu, tapi gesit dan jujur. Dialah yang megurus kebutuhanku setiap hari. Dialah yang belanja ke Pangalengan bersama ibu staf lainnya,dia yang memasak, dia yang mencuci, dia yang mengurus kebersihan rumah. Yang tidak dia lakukan, adalah ........memandikanku. Karena dulu katanya ada juragan yang suka dimandiin sama pembantunya dan pembantunya itu adalah....wanita. Siapa yang tidak mau!! Mang Ukan wajib tinggal dirumahku menemaniku, terutama pada malam hari. Tapi apa yang terjadi? Kalau sudah selesai makan malam,maka ia akan minta ijin keluar rumah, maka ditingalkan aku sendiri dirumah, mana rumahnya gede, belum ada televisi, ada juga radio butut, radio roti yang sudah dimodifikasi oleh kakakku, radio Kongo belum ada pada waktu itu. Tinggallah aku sendiri.
Kemana perginya mang Ukan malam2? Ternyata dibelakang rumahku ada perawan tingting, anaknya mandor Kebun, disanalah dia Wakuncar. Dan achirnya jadi juga isterinya mang Ukan, walaupun tidak lama, karena ternyata isterinya punya PIL. Sosok mang Ukan cukup dikenal di Perk.Malabar, baik oleh ibu2 maupun oleh pegawai-pegawai lainnya, selain karena orangnya jujur karena ybs. hampang birit. Apalagi bagi keluargaku mang Ukan cukup terkenal dan terkenang, karena disetiap kegiatan keluargaku mang Ukan selallu hadir. Mang Ukan jadi pengawalku sejak aku bujangan sampai aku punya anak selama ada di daerah Pangalengan.
Mang Ukan sekarang sudah pensiun dan tinggal di Malabar. Walaupun di panggil mang Ukan, ternyata pensiunnya lebih dulu aku. Memang mang Ukan kelihatan tua ,tapi ternyata umurku lebih tua, sehingga aku lebih dahulu pensiun. Mang Ukan....mang Ukan, salam buat seluruh keluarga mang Ukan.
Kemana perginya mang Ukan malam2? Ternyata dibelakang rumahku ada perawan tingting, anaknya mandor Kebun, disanalah dia Wakuncar. Dan achirnya jadi juga isterinya mang Ukan, walaupun tidak lama, karena ternyata isterinya punya PIL. Sosok mang Ukan cukup dikenal di Perk.Malabar, baik oleh ibu2 maupun oleh pegawai-pegawai lainnya, selain karena orangnya jujur karena ybs. hampang birit. Apalagi bagi keluargaku mang Ukan cukup terkenal dan terkenang, karena disetiap kegiatan keluargaku mang Ukan selallu hadir. Mang Ukan jadi pengawalku sejak aku bujangan sampai aku punya anak selama ada di daerah Pangalengan.
Mang Ukan sekarang sudah pensiun dan tinggal di Malabar. Walaupun di panggil mang Ukan, ternyata pensiunnya lebih dulu aku. Memang mang Ukan kelihatan tua ,tapi ternyata umurku lebih tua, sehingga aku lebih dahulu pensiun. Mang Ukan....mang Ukan, salam buat seluruh keluarga mang Ukan.
Minggu, 28 Februari 2010
LONGSOR.....LONGSOR
Longsor...longsor........longsor dimana-mana longsor. Yang terachir dan dan menggemparkan, sehingga ditinjau oleh bapak Wakil Presiden longsor di Ciwidey, tepatnya di Perkebunan Dewata.
Dengar longsor jadi ingat kejadian tahun 1970. Tepatnya di Perkebunan Pasir Yunghuhn, Pangalengan. Perkebunan Pasir Yunghuhn termasuk Perusahaan Perkebunan Antan IX pada waktu itu, sekarang sudah termasuk Perkebunan Purbasari, P.T.Perkebunan Nusantara VIII. Perkebunan Pasir Yunghuhn terletak berdampingan dengan Rumah Sakit Pasir Yunghuhn.
Kejadiannya pada bulan Maret/April 1970 hari Minggu. Sejak Jumat sore hujan mengguyur terus sampai hari Sabtu siang. Pada hari Minggu itu ada pertandingan Sepak bola antara Perkebunan Pasir Yunghuhn dengan Perkebunan Santosa. Jadi yang ada di Perkebunan hanyalah karyawan Pabrik dan karyawan tehnik yang terkait dengan Pabrik. Yang lainnya jadi bobotoh bertanding sepak bola di lapang Babakan.
Pada waktu itu aku jadi Kepala Pabrik, jadi aku siap ditempat kerja. Rencananya hari itu, pada waktu istirahat aku akan melayat kerumahnya Mandor Besar yang mengundangku dengan istri untuk syukuran kelahiran cucunya. Seperti kebiasaanku waktu istirahat adalah untuk makan bersama istri, demikian pula waktu itu aku sedang makan berdua dengan istri, baru saja makan dua sendok, tiba2 datanglah Mandor Besar, sambil terengah-engah dan bicara hanya....pabrik.......pabrik.......pabrik. Ada apa Pabrik, tanyaku. Pabrik...pabrik, mesin-mesin, longsor...longsor.......karyawan bubar, jawabnya terengah-engah tidak ngerti apa yang dikatakannya. Baiklah tenang dulu, ada apa! Setelah agak tenang barulah dia berkata, bahwa di Babakan, perumahan karyawan Pabrik dan tehnik longsor dan karyawan pada bubar, sedangkan mesin2 pengolahan masih jalan. Tanpa ba bu lagi aku langsung menuju Pabrik dan sebenarnyalah para karyawan sudah tidak ada sedangkan mesin2 masih berjalan termasuk ketel uap pembangkit listrik untuk Pabrik. Secara otomatis saya dan mandor besar mematikan mesin2 yang masih berjalan, mulai dari mesin pengering padahal ada 4 buah, terus ke mesin2 giling, mesin2 sortasi dan lain2nya. Tingallah ketel uap, walaupun ada petugas teknik, tapi mereka kalang kabut, karena biasanya kalau akan mematikan ketel uap, biasanya dikeluarkan dulu tekanannya/ ablas, sedangkan suara ablas itu bisa terdengar sampai ke Wanasuka yang jaraknya hampir 2 kilo meter, bisa2 karyawan lebih panik lagi, maka secara perlahan-lahan dikeluarkan tekanannya dan membutuhkan waktu. Setelah selesai mematikan mesin2, barulah saya menuju melihat longsor yang tidak berapa jauh dari Pabrik, paling-paling hanya 10 meter dari ujung pabrik. Masya Allah, Innalillahi, Allahu Akbar, perumahan karyawan sudah terseret longsor, tinggalah merupakan jurang yang dalam, tidak ada apa2 di atasnya hanya tanah yang merah.
Selain perumahan, tempat tersebut ada pula kolam2 ikan karyawan yang biasanya pada hari libur, minggu tempat rekreasi memancing ataupun menata kolam2 tersebut. Untunglah pada hari itu ada pertandingan sepak bola antara Perkebunan Pasir Yunghuhn dan Perkebunan Santosa di Lapang Babakan Malabar. Kalau saja....kalau saja tidak ada pertandingan sepak bola korban akan jauh lebih banyak. Korban yang tercatat pada waktu itu ada 13 orang, terdiri dari karyawan dan keluarga karyawan dan karyawan Rumah sakit Pasir Yunghuhn.
Allah maha besar,Allah maha penyayang, seharusnya aku dan istriku pada waktu itu kerumah mandor besar untuk menghadiri syukuran cucunya dan rumah mandor besar itu persis menghadap tempat yang longsor dan itupun sebagian teras depannya terbawa longsor. Bisa dibayangkan kalau saya jadi kerumah Mandor Besar, padahal istriku sedang bulan alaeun, sedang hamil tua oleh anakku yang pertama.
Pada hari itupun teridentifikasi dan telah ditemukan 7 orang dan langsung dimakamkan di pemakaman umum di Perkebunan Pasir Yunghuhn.
Longsoran itu menutup aliran sungai Cilaki kecil dan aliran sungai ini menuju ke Cilaki yang menjadi sumber air untuk pembangkit listrik Perkebunan Malabar. Sebelum menuju ke Pembangkit listrik aliran sungai itu masuk dulu kekolam penyaringan, untuk menahan kotoran kotoran seperti sampah, batang2 kayu terbawa ke pembangkit listrik dan ditempat itupun ditemukan korban tersangkut di saringan tsb. dan merupakan keluarga dari karyawan Perkebunan Pasir Yunghuhn dan dimakamkan di makam Perkebunan. Padahal jarak dari tempat longsor ke Sentral Cilaki/ Pembangkit listrik cukup jauh lebih dari 10 km.
Melihat kondisis longsoran yang tak mungkin korban ditemukan, maka atas kesepakatan bersama dengan keluarga korban, maka ditempat yang datar ditempat longsor kami membuat makam sebanyak korban yang belum ditemukan dengan upacara layaknya kita memakamkan.
Begitu ada berita ditemukan lagi korban di sungai Cilaki, tersangkut dibebatuan,maka makam tsb. dianggap tidak ada dengan mencabut nisannya.
Gara-gara longsor itu, setelah diteliti dari bagian Geologi, maka pada bual Juli 1970 Pabrik Perkebunan Pasir Yunghuhn ditutup. Semoga arwah para korban longsor di Pasir Yunghuhn diterima segala amal perbuatannya. Amin.
Kejadian aneh dimana pada waktu itu mana sudah menjelang sore dan kami2 sudah kecapaian dari pagi mencari-cari korban ditempat longsor dengan peralatan apa adanya dan sedang mengobrol membicarakan longsor didepan Pabrik, tiba2 ada seorang ibu yang kemasukan dan menyuruh kami untuk mencari anaknya yang masih balita dan menunjukan tempatnya didaerah longsor, maka kamipun segera berangkat lagi kebawah disertai dengan si ibu itu dan disuatu tempat si ibu itu menunjuk-nunjuk kebawah dan dengan serta merta kamipun mencari-cari ditimbunan tanah dan Allah maha besar ditempat yang ditunjuk si ibu itu didapatkan putranya yang masih balita sudah dalam keadaan meninggal. Semoga pak Daman Soleh masih mengingatnya karena beliaulah yang mengangkat balita tsb. dari reruntuhan pintu rumah yang terbawa longsor.Allahu Akbar.
Dengar longsor jadi ingat kejadian tahun 1970. Tepatnya di Perkebunan Pasir Yunghuhn, Pangalengan. Perkebunan Pasir Yunghuhn termasuk Perusahaan Perkebunan Antan IX pada waktu itu, sekarang sudah termasuk Perkebunan Purbasari, P.T.Perkebunan Nusantara VIII. Perkebunan Pasir Yunghuhn terletak berdampingan dengan Rumah Sakit Pasir Yunghuhn.
Kejadiannya pada bulan Maret/April 1970 hari Minggu. Sejak Jumat sore hujan mengguyur terus sampai hari Sabtu siang. Pada hari Minggu itu ada pertandingan Sepak bola antara Perkebunan Pasir Yunghuhn dengan Perkebunan Santosa. Jadi yang ada di Perkebunan hanyalah karyawan Pabrik dan karyawan tehnik yang terkait dengan Pabrik. Yang lainnya jadi bobotoh bertanding sepak bola di lapang Babakan.
Pada waktu itu aku jadi Kepala Pabrik, jadi aku siap ditempat kerja. Rencananya hari itu, pada waktu istirahat aku akan melayat kerumahnya Mandor Besar yang mengundangku dengan istri untuk syukuran kelahiran cucunya. Seperti kebiasaanku waktu istirahat adalah untuk makan bersama istri, demikian pula waktu itu aku sedang makan berdua dengan istri, baru saja makan dua sendok, tiba2 datanglah Mandor Besar, sambil terengah-engah dan bicara hanya....pabrik.......pabrik.......pabrik. Ada apa Pabrik, tanyaku. Pabrik...pabrik, mesin-mesin, longsor...longsor.......karyawan bubar, jawabnya terengah-engah tidak ngerti apa yang dikatakannya. Baiklah tenang dulu, ada apa! Setelah agak tenang barulah dia berkata, bahwa di Babakan, perumahan karyawan Pabrik dan tehnik longsor dan karyawan pada bubar, sedangkan mesin2 pengolahan masih jalan. Tanpa ba bu lagi aku langsung menuju Pabrik dan sebenarnyalah para karyawan sudah tidak ada sedangkan mesin2 masih berjalan termasuk ketel uap pembangkit listrik untuk Pabrik. Secara otomatis saya dan mandor besar mematikan mesin2 yang masih berjalan, mulai dari mesin pengering padahal ada 4 buah, terus ke mesin2 giling, mesin2 sortasi dan lain2nya. Tingallah ketel uap, walaupun ada petugas teknik, tapi mereka kalang kabut, karena biasanya kalau akan mematikan ketel uap, biasanya dikeluarkan dulu tekanannya/ ablas, sedangkan suara ablas itu bisa terdengar sampai ke Wanasuka yang jaraknya hampir 2 kilo meter, bisa2 karyawan lebih panik lagi, maka secara perlahan-lahan dikeluarkan tekanannya dan membutuhkan waktu. Setelah selesai mematikan mesin2, barulah saya menuju melihat longsor yang tidak berapa jauh dari Pabrik, paling-paling hanya 10 meter dari ujung pabrik. Masya Allah, Innalillahi, Allahu Akbar, perumahan karyawan sudah terseret longsor, tinggalah merupakan jurang yang dalam, tidak ada apa2 di atasnya hanya tanah yang merah.
Selain perumahan, tempat tersebut ada pula kolam2 ikan karyawan yang biasanya pada hari libur, minggu tempat rekreasi memancing ataupun menata kolam2 tersebut. Untunglah pada hari itu ada pertandingan sepak bola antara Perkebunan Pasir Yunghuhn dan Perkebunan Santosa di Lapang Babakan Malabar. Kalau saja....kalau saja tidak ada pertandingan sepak bola korban akan jauh lebih banyak. Korban yang tercatat pada waktu itu ada 13 orang, terdiri dari karyawan dan keluarga karyawan dan karyawan Rumah sakit Pasir Yunghuhn.
Allah maha besar,Allah maha penyayang, seharusnya aku dan istriku pada waktu itu kerumah mandor besar untuk menghadiri syukuran cucunya dan rumah mandor besar itu persis menghadap tempat yang longsor dan itupun sebagian teras depannya terbawa longsor. Bisa dibayangkan kalau saya jadi kerumah Mandor Besar, padahal istriku sedang bulan alaeun, sedang hamil tua oleh anakku yang pertama.
Pada hari itupun teridentifikasi dan telah ditemukan 7 orang dan langsung dimakamkan di pemakaman umum di Perkebunan Pasir Yunghuhn.
Longsoran itu menutup aliran sungai Cilaki kecil dan aliran sungai ini menuju ke Cilaki yang menjadi sumber air untuk pembangkit listrik Perkebunan Malabar. Sebelum menuju ke Pembangkit listrik aliran sungai itu masuk dulu kekolam penyaringan, untuk menahan kotoran kotoran seperti sampah, batang2 kayu terbawa ke pembangkit listrik dan ditempat itupun ditemukan korban tersangkut di saringan tsb. dan merupakan keluarga dari karyawan Perkebunan Pasir Yunghuhn dan dimakamkan di makam Perkebunan. Padahal jarak dari tempat longsor ke Sentral Cilaki/ Pembangkit listrik cukup jauh lebih dari 10 km.
Melihat kondisis longsoran yang tak mungkin korban ditemukan, maka atas kesepakatan bersama dengan keluarga korban, maka ditempat yang datar ditempat longsor kami membuat makam sebanyak korban yang belum ditemukan dengan upacara layaknya kita memakamkan.
Begitu ada berita ditemukan lagi korban di sungai Cilaki, tersangkut dibebatuan,maka makam tsb. dianggap tidak ada dengan mencabut nisannya.
Gara-gara longsor itu, setelah diteliti dari bagian Geologi, maka pada bual Juli 1970 Pabrik Perkebunan Pasir Yunghuhn ditutup. Semoga arwah para korban longsor di Pasir Yunghuhn diterima segala amal perbuatannya. Amin.
Kejadian aneh dimana pada waktu itu mana sudah menjelang sore dan kami2 sudah kecapaian dari pagi mencari-cari korban ditempat longsor dengan peralatan apa adanya dan sedang mengobrol membicarakan longsor didepan Pabrik, tiba2 ada seorang ibu yang kemasukan dan menyuruh kami untuk mencari anaknya yang masih balita dan menunjukan tempatnya didaerah longsor, maka kamipun segera berangkat lagi kebawah disertai dengan si ibu itu dan disuatu tempat si ibu itu menunjuk-nunjuk kebawah dan dengan serta merta kamipun mencari-cari ditimbunan tanah dan Allah maha besar ditempat yang ditunjuk si ibu itu didapatkan putranya yang masih balita sudah dalam keadaan meninggal. Semoga pak Daman Soleh masih mengingatnya karena beliaulah yang mengangkat balita tsb. dari reruntuhan pintu rumah yang terbawa longsor.Allahu Akbar.
Rabu, 10 Februari 2010
Cerita hantu????
Cerita tentang hantu?? Perkebunan gudangnya. Mau hantu di kebun,hantu di rumah, hantu di pabrik, hantu di bengkel. Lengkaplah asal percaya saja.
Tiap blok kebun punya cerita sendiri-sendiri. Ada blok kebun yang tidak boleh ribut atau ada pula blok kebun yang tidak boleh menyebut harimau/maung, harus nyebut leuleusan atau tidak boleh menyebut kucing nanti akan lebih banyak lagi kucing yang kelihatan.
Waktu metik di blok kebun Pasir Angin ada Legok Haji. Nah disini tidak boleh ribut harus tenang dan tertib. Begitulah pemetik tanpa sadar mereka sudah pada ribut ada yang ngahariring, ada yang berteriak-teriak agar sama2 menuju kelamping untuk memetik, ada pula yang sedang bercerita cerita di radio tadi malam. Pokoknya ribut saja ditempat metik tsb.
Tiba2 ada pemetik yang berteriak-teriak dan menjerit-jerit, rupanya dia kesurupan,kemasukan setan. Mandor sewot marah2:" Ceuk aing oge ulah garandeng, teu ngagugu. Ngambek tah eyang haji". kata saya juga jangan ribut, tidak menurut, jadi Eyang Haji marah. Untungnya saya punya mandor besar yang sedikit punya ilmu. Setelah berkomunikasi dengan pemetik, baca2 jampi, achirnya si pemetik itu siuman dan sadar kembali.
Saya tanya sama mandor besar ada apa dan mengapa? Dengan enteng mandor besar menjawab:
"Dia kesiangan lupa makan pagi. Salatri".
Secara periodik ibuku suka datang kerumahku. Aku masih bujangan dan menempati rumah cukup luas,ada 3 kamar tidur,dapur, kamar mandi 2, ruang tamu menyatu dengan ruang keluarga dan ruang makan. Rumahku dari lantai papan, sehingga kalau berjalan akan kedengaran duk...duk...duk. Apalagi aku suka pakai sepatu kebun yang ada pakunya.
Seperti biasa aku pagi2 sudah berangkat kerja meninggalkan ibuku sendiri dirumah ditemani pembantu rumah. Hari itu karena kesibukanku tidak pulang istirahat, nanti saja sekalian pulang karena ada ibuku. Waktu aku pulang ibuku bertanya, apakah aku tadi pulang dulu ke rumah?
Ada apa mak? Dikiranya aku yang pulang, karena waktu ibuku didapur terdengar seperti yang membuka pintu dan terdengar seperti orang yang berjalan.....duk....duk....duk.
Aku tanya sama ibuku, jam berapa? Jawabnya jam 11.00! Pantas tadi aku dikebun ingat kerumah terus, ingat ada ibuku dirumah, jadi yang datang tadi itu hayalanku, bukan juragan Boscha. Hahhaha!!!
Malam minggu aku bermaksud menginap di rumah kang Kosasih, karena dia masih bujangan, sudah jadi Employe Kebun jadi sudah menempati rumah sendiri. Dari rumahku aku ikut kang Kosasih naik motor Sparta, belum ada Honda-Hondaan menuju kerumahnya. Sore itu hujan mengguyur seluruh kebun, sehingga aku agak terlambat menuju rumah kang Kosasih, menunggu hujan reda dulu. Baru menjelang malam hujan reda dan aku bersama kang Kosasih berboncengan naik motor. Aku yang dibonceng sehingga bebas melihat kedepan, karena kiri kanan dan belakang gelap, tidak ada kendaraan lain kecuali motor kang Kosasih itu. Habis hujan, dikanan kiri gelap, aspal bekas tersiram hujan yang tersorot lampu motor menimbulkan asap yang membayangkan sensasi tersendiri. Dari jauh kelihatan sekelebat seperti orang yang berjalan berkerudung sarung , aku katakan kepada kang Kosasih: " Awas orang Kang, kasih dim! Jelas sekali orang itu dari jauh, motor makin dekat....makin dekat.......sekejap orang itu ....hilang. Kemana larinya jalan didepan kelihatan jelas!
Jangan,jangan! Sesampainya dirumah kang Kosasih, malam itu juga dipanggil mang IUN Mandor Besarnya kang Kosasih. Orangnya sudah tua dan sudah lama bekerja disana bisa dibilang dia itu arsip nya untuk daerah itu. Dia akan tahu segala hal yang terjadi disana. Benar saja setelah aku tanya Ada apa dikebun blok itu? Maka jawabnya" Iya Gan; aku dipanggil Juragan,padahal umurku baru 20 tahun, diblok kebun itu si Salim katinggang pangpung tangkal saninten dugi ka maot sapadaharita! si Salim tertimpa ranting pohon saninten sampai meninggal. Pantas saja! Jadi yang tadi itu arwahnya mang Salim, Semoga diterima disisiMU ya Allah!!
Tiap blok kebun punya cerita sendiri-sendiri. Ada blok kebun yang tidak boleh ribut atau ada pula blok kebun yang tidak boleh menyebut harimau/maung, harus nyebut leuleusan atau tidak boleh menyebut kucing nanti akan lebih banyak lagi kucing yang kelihatan.
Waktu metik di blok kebun Pasir Angin ada Legok Haji. Nah disini tidak boleh ribut harus tenang dan tertib. Begitulah pemetik tanpa sadar mereka sudah pada ribut ada yang ngahariring, ada yang berteriak-teriak agar sama2 menuju kelamping untuk memetik, ada pula yang sedang bercerita cerita di radio tadi malam. Pokoknya ribut saja ditempat metik tsb.
Tiba2 ada pemetik yang berteriak-teriak dan menjerit-jerit, rupanya dia kesurupan,kemasukan setan. Mandor sewot marah2:" Ceuk aing oge ulah garandeng, teu ngagugu. Ngambek tah eyang haji". kata saya juga jangan ribut, tidak menurut, jadi Eyang Haji marah. Untungnya saya punya mandor besar yang sedikit punya ilmu. Setelah berkomunikasi dengan pemetik, baca2 jampi, achirnya si pemetik itu siuman dan sadar kembali.
Saya tanya sama mandor besar ada apa dan mengapa? Dengan enteng mandor besar menjawab:
"Dia kesiangan lupa makan pagi. Salatri".
Secara periodik ibuku suka datang kerumahku. Aku masih bujangan dan menempati rumah cukup luas,ada 3 kamar tidur,dapur, kamar mandi 2, ruang tamu menyatu dengan ruang keluarga dan ruang makan. Rumahku dari lantai papan, sehingga kalau berjalan akan kedengaran duk...duk...duk. Apalagi aku suka pakai sepatu kebun yang ada pakunya.
Seperti biasa aku pagi2 sudah berangkat kerja meninggalkan ibuku sendiri dirumah ditemani pembantu rumah. Hari itu karena kesibukanku tidak pulang istirahat, nanti saja sekalian pulang karena ada ibuku. Waktu aku pulang ibuku bertanya, apakah aku tadi pulang dulu ke rumah?
Ada apa mak? Dikiranya aku yang pulang, karena waktu ibuku didapur terdengar seperti yang membuka pintu dan terdengar seperti orang yang berjalan.....duk....duk....duk.
Aku tanya sama ibuku, jam berapa? Jawabnya jam 11.00! Pantas tadi aku dikebun ingat kerumah terus, ingat ada ibuku dirumah, jadi yang datang tadi itu hayalanku, bukan juragan Boscha. Hahhaha!!!
Malam minggu aku bermaksud menginap di rumah kang Kosasih, karena dia masih bujangan, sudah jadi Employe Kebun jadi sudah menempati rumah sendiri. Dari rumahku aku ikut kang Kosasih naik motor Sparta, belum ada Honda-Hondaan menuju kerumahnya. Sore itu hujan mengguyur seluruh kebun, sehingga aku agak terlambat menuju rumah kang Kosasih, menunggu hujan reda dulu. Baru menjelang malam hujan reda dan aku bersama kang Kosasih berboncengan naik motor. Aku yang dibonceng sehingga bebas melihat kedepan, karena kiri kanan dan belakang gelap, tidak ada kendaraan lain kecuali motor kang Kosasih itu. Habis hujan, dikanan kiri gelap, aspal bekas tersiram hujan yang tersorot lampu motor menimbulkan asap yang membayangkan sensasi tersendiri. Dari jauh kelihatan sekelebat seperti orang yang berjalan berkerudung sarung , aku katakan kepada kang Kosasih: " Awas orang Kang, kasih dim! Jelas sekali orang itu dari jauh, motor makin dekat....makin dekat.......sekejap orang itu ....hilang. Kemana larinya jalan didepan kelihatan jelas!
Jangan,jangan! Sesampainya dirumah kang Kosasih, malam itu juga dipanggil mang IUN Mandor Besarnya kang Kosasih. Orangnya sudah tua dan sudah lama bekerja disana bisa dibilang dia itu arsip nya untuk daerah itu. Dia akan tahu segala hal yang terjadi disana. Benar saja setelah aku tanya Ada apa dikebun blok itu? Maka jawabnya" Iya Gan; aku dipanggil Juragan,padahal umurku baru 20 tahun, diblok kebun itu si Salim katinggang pangpung tangkal saninten dugi ka maot sapadaharita! si Salim tertimpa ranting pohon saninten sampai meninggal. Pantas saja! Jadi yang tadi itu arwahnya mang Salim, Semoga diterima disisiMU ya Allah!!
Senin, 08 Februari 2010
Juragan ageung!
Banyak cerita mengenai perilaku juragan kontrak baheula, mulai yang humanis, feodal dan por....on.
Dahulu kalau mau lewat ke halaman rumah juragan Ageung, pasti lewat jalan hideung/jalan aspal. Nah di jalan hideung itu diberi tanda garis melintang jalan, garis yang pertama kalau yang naik sepeda harus turun, garis yang kedua yang memakai totopong, tutup kepala harus dibuka dan sambil agak membungkuk melewati rumah juragan ageung sampai garis yang ketiga totopong baru bisa dipakai lagi dan pada garis yang keempat yang naik sepeda bisa menaiki sepedanya lagi. Lucunya dirumah juragan ageung itu tidak ada siapa2, karena juragan Ageung sedang ada di Batavia atau Nederland sedang yang ada dirumah kalau tidak jongos.........ya si Doggie anjing herdernya. Lumayan menghormat mang jongos, bukan anjing lho!
Ada pula yang penyayang binatang, dihalaman rumahnya dipelihara berbagai binatang seperti burung dan rusa. Kalau jam2 makan si rusa itu sudah mengerti dan akan mendekati rumah, karena juragan ageung pasti akan memberi makan hewan2 tsb.ditemani tukang kebun.
Waktu mengontrol kebun, kalau menemukan anak burung yang jatuh, pasti akan menyuruh siapa saja yang ada didekatnya untuk mengembalikan anak burung itu kesarangnya dan diberi persen uang. Nah, kebaikan juragan ini dimanfaatkan anak2. Bila tahu juragan akan lewat, maka diperjalanan akan dicegat dan sambil pura2 nangis akan diperlihatkan anak burung tsb.
"Seh barudak eta manuk uihkeun deui kana sayangna. Karunya!" kata juragan sambil memberi uang kepada anak2 tsb. Juragan berlalu anak2 bersorak dapat uang dan akan berulang lagi pada hari lainnya. Dasar barudak, berani ngibulin juragan.
Anak burung jatuh dari sarangnya, adalah mungkin, karena lingkungan pada waktu itu tetap dijaga. Selain kebun teh, hutan2 cadangan masih dipelihara pohon2 masih dibiarkan tumbuh, sehingga suasana lingkungan rindang sehingga populasi burung tetap terjaga. Tidak jarang ayam kasintu, cangehgar ; ayam hutan bersatu dengan ayam kampung. Kokok ayam hutan dan suara burung akan menghiasi lingkungan kebun sepanjang hari.
Sumber2 air dijaga dan dipelihara, pohon2 sekelilingnya dibiarkan tumbuh ranting2nyapun dilarang diambil. Jangan heran pada waktu itu pemeo beredar dimayarakat:" Awas jangan ambil kayu bakar disana.......angker........banyak ularnya", sekedar untuk menjaga lingkungan.Dan dipercaya oleh masyarakat, bagaimana sekarang????
Adapula perilaku juragan yang nyeleneh. Beliau ini kalau mau marah pasti minta maaf dulu. Padahal orangnya tinggi besar suara marahnya keras dan melengking: " Seh Agum hapunten juragan bade bendu". Barulah beliau mengutarakan kemarahannya, karena tidak setuju dengan hasil kerja kita. Tak jarang pula kalau sudah marah memberi serutu! Tiap saat saja marah Meneer!!!
Banyak pula juragan2 ini tidak membawa isterinya ke Onderneming, kalau tidak di negeri Belanda di Batavia isteri2nya ditempatkan, jadi dia sendirian di kebun. Atau mereka2 yang masih bujangan. Nah juragan2 ini yang suka usil dengan buruh-buruh wanita baik pemetik maupun pabrik/sortasi.
Bagi mereka suatu kebanggaan kalau kaanggo oleh juragan. Mereka akan senang kalau disuruh ke gedung; rumah juragan, karena pulangnya pasti diberi uang atau pakaian. Apa yang dikerjakan dirumah juragan? Entahlah hanya mereka yang tahu.
Kalau mengontrol kebun seperti biasa dengan pakaian lengkap. Topi juragan, stelan seperti safari, sepatu jangkung, tidak lupa jas hujan dan teteken/iteuk/tongkat tangan, tongkat serba guna selain untuk memukul binatang seperti ular atau untuk menahan badan kalau jalan licin.
Seperti biasa kalau sudah sampai ketempat pekerja tanya berapa buruh yang hadir, berapa kira2 dapat pucuk hari ini . Biasanya juragan punya pemetik favorit. Mandor siap2 saja kalau juragan sudah menanyakannya. Juragan akan menjauh dari kumpulan buruh lainnya menuju kebatas kebun/ dangdang dan dengan sigap si mandor akan menyuruh pemetik favoritnya itu untuk mendekati juragan. Apa yang terjadi hanya mereka yang tahu yang pasti jas hujan sangat berjasa.
Atau juragan akan pura2 ketinggalan tongkatnya dan si mandor sudah tahu si favorit itu yang harus mengantarkannya ke gedung. Besoknya si mandor akan dapat persenan dari si pemetik.
Jangan salah itu dahulu jaman meneer.
Dahulu kalau mau lewat ke halaman rumah juragan Ageung, pasti lewat jalan hideung/jalan aspal. Nah di jalan hideung itu diberi tanda garis melintang jalan, garis yang pertama kalau yang naik sepeda harus turun, garis yang kedua yang memakai totopong, tutup kepala harus dibuka dan sambil agak membungkuk melewati rumah juragan ageung sampai garis yang ketiga totopong baru bisa dipakai lagi dan pada garis yang keempat yang naik sepeda bisa menaiki sepedanya lagi. Lucunya dirumah juragan ageung itu tidak ada siapa2, karena juragan Ageung sedang ada di Batavia atau Nederland sedang yang ada dirumah kalau tidak jongos.........ya si Doggie anjing herdernya. Lumayan menghormat mang jongos, bukan anjing lho!
Ada pula yang penyayang binatang, dihalaman rumahnya dipelihara berbagai binatang seperti burung dan rusa. Kalau jam2 makan si rusa itu sudah mengerti dan akan mendekati rumah, karena juragan ageung pasti akan memberi makan hewan2 tsb.ditemani tukang kebun.
Waktu mengontrol kebun, kalau menemukan anak burung yang jatuh, pasti akan menyuruh siapa saja yang ada didekatnya untuk mengembalikan anak burung itu kesarangnya dan diberi persen uang. Nah, kebaikan juragan ini dimanfaatkan anak2. Bila tahu juragan akan lewat, maka diperjalanan akan dicegat dan sambil pura2 nangis akan diperlihatkan anak burung tsb.
"Seh barudak eta manuk uihkeun deui kana sayangna. Karunya!" kata juragan sambil memberi uang kepada anak2 tsb. Juragan berlalu anak2 bersorak dapat uang dan akan berulang lagi pada hari lainnya. Dasar barudak, berani ngibulin juragan.
Anak burung jatuh dari sarangnya, adalah mungkin, karena lingkungan pada waktu itu tetap dijaga. Selain kebun teh, hutan2 cadangan masih dipelihara pohon2 masih dibiarkan tumbuh, sehingga suasana lingkungan rindang sehingga populasi burung tetap terjaga. Tidak jarang ayam kasintu, cangehgar ; ayam hutan bersatu dengan ayam kampung. Kokok ayam hutan dan suara burung akan menghiasi lingkungan kebun sepanjang hari.
Sumber2 air dijaga dan dipelihara, pohon2 sekelilingnya dibiarkan tumbuh ranting2nyapun dilarang diambil. Jangan heran pada waktu itu pemeo beredar dimayarakat:" Awas jangan ambil kayu bakar disana.......angker........banyak ularnya", sekedar untuk menjaga lingkungan.Dan dipercaya oleh masyarakat, bagaimana sekarang????
Adapula perilaku juragan yang nyeleneh. Beliau ini kalau mau marah pasti minta maaf dulu. Padahal orangnya tinggi besar suara marahnya keras dan melengking: " Seh Agum hapunten juragan bade bendu". Barulah beliau mengutarakan kemarahannya, karena tidak setuju dengan hasil kerja kita. Tak jarang pula kalau sudah marah memberi serutu! Tiap saat saja marah Meneer!!!
Banyak pula juragan2 ini tidak membawa isterinya ke Onderneming, kalau tidak di negeri Belanda di Batavia isteri2nya ditempatkan, jadi dia sendirian di kebun. Atau mereka2 yang masih bujangan. Nah juragan2 ini yang suka usil dengan buruh-buruh wanita baik pemetik maupun pabrik/sortasi.
Bagi mereka suatu kebanggaan kalau kaanggo oleh juragan. Mereka akan senang kalau disuruh ke gedung; rumah juragan, karena pulangnya pasti diberi uang atau pakaian. Apa yang dikerjakan dirumah juragan? Entahlah hanya mereka yang tahu.
Kalau mengontrol kebun seperti biasa dengan pakaian lengkap. Topi juragan, stelan seperti safari, sepatu jangkung, tidak lupa jas hujan dan teteken/iteuk/tongkat tangan, tongkat serba guna selain untuk memukul binatang seperti ular atau untuk menahan badan kalau jalan licin.
Seperti biasa kalau sudah sampai ketempat pekerja tanya berapa buruh yang hadir, berapa kira2 dapat pucuk hari ini . Biasanya juragan punya pemetik favorit. Mandor siap2 saja kalau juragan sudah menanyakannya. Juragan akan menjauh dari kumpulan buruh lainnya menuju kebatas kebun/ dangdang dan dengan sigap si mandor akan menyuruh pemetik favoritnya itu untuk mendekati juragan. Apa yang terjadi hanya mereka yang tahu yang pasti jas hujan sangat berjasa.
Atau juragan akan pura2 ketinggalan tongkatnya dan si mandor sudah tahu si favorit itu yang harus mengantarkannya ke gedung. Besoknya si mandor akan dapat persenan dari si pemetik.
Jangan salah itu dahulu jaman meneer.
Langganan:
Postingan (Atom)