Jumat, 15 November 2013

PINDAH KE PERKEBUNAN DAYEUHMANGGUNG GARUT


Gara2 longsor di Perkebunan Pasir Yunghuhn dan Pabrik Teh ditutup, maka aku dimutasikan ke Perkebunan Dayeuhmanggung.Tadinya penuh harapan karena diangkat jadi Kepala Pabrik karirku akan mulus, tapi kenyataannya aku kembali ke jabatanku sebelumnya jadi Kepala Bagian Kebun. Kasihan de lu! Tanpa aku bertanya kepada atasanku, kenapa aku dimutasikan,maka sebagai karyawan yang loyal kepada perusahaan aku jalani mutasi itu, jadilah aku penghuni Perkebunan Dayeuh manggung. Dimana Perkebunan Dayeuh manggung itu? Dari kota Garut menuju jurusan Tasik,setelah lewat Cilawu dan sebelum Bojongloa belok ke sebelah kanan menuju kaki gunung Cikuray disanalah Perkebunan Dayeuh manggung kurang lebih 12 km. Terdiri dari 4 Bagian Kebun , yang terjauh adalah Kebun Cihurang kurang lebih 10 km dari Emplasemen Pabrik dan yang terdekat Bagian Kebun Tengah, sekitar Emplasemen yang lainnya adalah Bagian Pasirwaru dan Nyampay. Seebelum benar2 pindah tempat,maka aku meninjau dulu sambil sekalian lapor kepada Administratur Perkebunan Dayeuhmanggung. Setelah diterima oleh Administratur Perkebunan Dayeuh manggung aku ditempatkan di afdeling Cihurang afdeling yang terjauh disebelah timur kaki Gunung Cikuray. Pada wktu melapor aku diantar oleh pak Arka Art. wakil Administratur Perk. Pasir Yunghuhn. Aku tidak dengan isteri jadi hanya berdua dan ketiga sopir. Kesempatan ini digunakan untuk meninjau afdeling yang akan aku tempati termasuk rumah yang akan ditempati. Dari Pabrik menuju keselatan menuju kaki gunung Cikuray sebelah timur.Sepanjang jalan yang dilalui hanya tanaman teh melulu, sekalikali jurang dengan hutan2 nya, maklum kaki gunung Cikuray. Sampailah ke Emplasemen Cihurang. Karena sudah sore hari dan kabut sudah turun aku tidak lama ada di Emlasemen Cihurang. Ceritanya Emlasemen, tapi hanya ada beberapa rumah karyawan, kantor Afedeling, Penitipan Bayi. Belum ada rumah untuk Staf pada waktu itu, jadi saya
menghuni rumah bedeng untuk dua keluarga dijadikan satu rumah dan  belum ada penerangan listrik.
Pada bulan Agustus 1970 jadilah aku warga Perk. Dayeuhmanggung.Aku, isteri dan anakku yang pertama yang baru berumur  4 bulan menghuni Cihurang. Yang biasa bergelimang dengan cahaya listrik, maka di Cihurang cukup dengan cahaya Petromax. Alhamdulillah.
Di Perkebunan Dayeuhmanggung aku bersama lagi dengan teman 2 waktu di Pangalengan seperti Adang Abdurachman, teman waktu sama2 di Perk. Malabar dan sama2 di SMEA Tasikmalaya, Yos Budiman, Ilin Djafar sama2 waktu di Malabar,Maman Sopandi waktu di Perk. Pasir Yunghuhn. Staf2 yang lainnya N.P.Suryana, Ateng,Yana S Prihatna,U.Suherman, Kemon Sujadi, Atang Alamsyah, Dindin Syamsudin, maaf kalau ada yang tidak kesebut, maklum tos lami teuing. Dan Administraturnya adalah Pak Ezrin Mansur.
Dari afdeling Cihurang aku dipindahkan ke afdeling Nyampay. Kalau di Cihurang diwaktu malam aku keluar rumah, maka yang tampak hanyalah gelap dan gelap paling2 cahaya lampu teplok dari rumah2 karyawan, sedangkan waktu di Nyampay kalau aku buka gardeng jendela, maka dari jauh tampak lampu berkelap kelip pemandangan kota Garut. Dirumah tidak lama bergelap-gelap, achirnya diberi genset Honda 500 watt selain jadi terang benderang juga bisa pasang TV.Alhamdulillah. Beruntung sekali aku ditempatkan di Perkebunan dengan Administraturnya pak Ezrin Mansur dimana kelak pada waktu aku jadi Pimpinan Perkebunan banyak cara2 kepemimpinannya yang aku manfaatkan. Selain itu kedisiplinannya, kejujurannya dan cara menempatkan dirinya, dimana sebagai pimpinan, dimana sebagai bapak atau kakak,sebagai masyarakat biasa.Bila kurang menghayatinya dapat disalah tafsirkan, beliau galak, pemarah. Tapi bagiku sendiri aku punya prinsip, selama kita melaksanakan pekerjaan dengan benar,masa akan dimarahi. Beliau marah, berarti beliau memperhatikan kita dari pada dicuekin.Aya aya bae.
Pada waktu itu ada kebijaksanaan Direksi, dimana bagi Perkebunan yang arealnya luas selain Wakil Pimpinan/Employe Pertama ada Kepala Tanaman, nah, dari kebijaksanaan itu ada beberapa orang yang diangkat jadi Kepala Tanaman, termasuk aku, tapi dipindahkan ke Perkebunnan Kertamanah, bekas dua Perkebunan Cinyiruan dan Perkebunan Kertamanah dengan komoditi Kina dan Teh dan aku diangkat jadi Kepala Tanaman Teh. Alhamdulillah.
Justru di Perkebunan Dayeuhmanggung inilah aku merasa ditempa. Aku merasa diberi modal,bahwa aku mampu menduduki jabatan yang lebih tinggi. Kekompakan seluruh staf menjadikan Perkebunan Dayeuhmanggung dipromosikan oleh bapak Dirprod pada waktu itu Bapak Panji Natadikara, dipromosikan kepada perkebunan lainnya terutama perkebunan teh untuk melihat perkebunan Dayeuh manggung mulai dari produksi, mutu teh, harga jual teh,bidang pangkasan dan bidang petikan dan kebersihan kebun. Wah bukan main bangganya, hanya "ripuh" untuk mencapai itu tapi puas, jerih payah kami diperhatikan atasan yang paling tinggi.Latihan disiplin tiap hari harus menanda tangani absensi, kalau tidak pagi2;ngambil pupuk kalau musim meerrabuk " ya sore hari sambil mengecek produksi hari itu diteruskan kalau tidak bilyard ya main tenis, tapi dapat dibayangkan dari afdeling ke kantor/pabrik itu paling dekat 5 km dan paling jauh ada 10 km. Yang membanggakan bagi keluarga saya, selain saya dapat promosi ke Perkebunan Kertamanah, juga kaluarga saya bertambah 2 orang putra dan putri GA(rut)RRY GAR(rut)DA(yeuh)MA(nggung) dan yang putri GAR(rut)TI DA(yeuhmanggung) YAN(januari) TRI( nu katilu). Waktu ke Perkebunan Dayeuhmanggung membawa orok beureum  meninggalkan perkebunan Dayeuh manggung membawa 3 orang, kekayaan yang tiada taranya. Alhamdulillah. Perjalanan masih panjang, istirahat dulu sambil mengingat2.









.

Senin, 07 Oktober 2013

RASA AMAN HARAPAN KITA SEMUA!

Selama aku hidup ada beberapa gangguan keamanan yang mengganggu rasa aman. Aku mengalami ganguan keamanan pada masa penjajahan Belanda, tapi waktu itu masih masa kanak-kanak.Kata ayahku pada waktu itu gangguan keamanan karena memang pada waktu itu kita menghadapi penjajah Belanda. Para pejuang kita selalu berperang dengan Belanda, dimana ada pos tentara Belanda selalu diserang para pejuang.Lihat bule takut rasanya.Tapi karena aku anak kecil tidak tahu apa2 pada waktu itu ya cuek aja. Malah ngolok2 Bule mancung, bule pirang.Tapi bagi masyaratkat umumnya bule itu/Belanda adalah musuh yang harus dilawan, terjadi perlawanan oleh tentara baik secara terang2an melawan tentara belanda dan atau dengan perang gerilya. Para pemuda menyerang pos Belanda yang dijaga oleh soldadu Belanda setelah itu menghilang.Pada waktu masa Jepang aku tidak ingat sama sekali, hanya ayahku pernah bertempat tinggal di Cimindi, setelah itu ayahku dipindahkan ke Rajamandala. setelah itu baru pindah lagi ke Pameungpeuk dan di Pameungpeuk inilah aku mengenal tentara Belanda, karena kebetulan rumahku berdekatan dengan markas tentara Belanda. Dengan bermodalkan bapak dan ibuku bisa berbahasa Belanda dan bermain Bridge, maka kerap kali rumahku diadakan permainan bridge. Diruang tamu bermain brigde, tapi diruang belakang bersatu dengan dapur, para pemuda sedang mengatur siasat bagaimana untuk menyerang mereka, salah seorang diantara pemuda itu adalah Eben Hidayat dan sampai hayatnya beliau menjadi tentara dan pangkat terachir yang saya tahu Mayor Angkatan Darat. Untuk menghindari kecurigaan tentara Belanda, maka suatu waktu markas tentara diserang, termasuk rumahku......ditembak atapnya doangg.
Markas tentara Belanda adalah rumah saudara kakekku, biasa aku menyebutnya nini Haji berdampingan dengan Pos Polisi, sedangkan dibelakang markas tentara Belanda adalah rumah kakkekku yang dipakai oleh t entara Belanda hanya ini mah tentara Belanda Hideung.
Aku paling senang kalau sore hari pada waktu minum sore, aku biasanya diberi satu mug gede kalau tidak air kopi air coklat, kadang2 ada rotinya. Pada waktu itu bapakku perokok berat dan udud padudan alias ngisap cangklong. Sebulan sekali pasti oom Watimena (?) memberi bapakku kalau tidak rokok ya tembakau untuk cangklong. Oom Watimena pasti memanggilku dan dengan logat ambonnya dia berbicara : Ngkus, ini tabak buat papi!
Bandung Lautan Api dirasakan pula dampaknya, rasa tidak aman seperti dikejar-kejar  tentara Belanda dan achirnya harus mengungsi ke Ciganjeng, Nagrak, Lamajang, Pangalengan, Genteng dan achirnya berada di Selaawi, Pamoyanan, Pamorotan, Talegong di Garut Selatan. Pulang mengungsi rasa aman masih dihantui dengan peristiwa APRA. Pada waktu kejadian, ayahku sedang dinas ke Bandung dari Pameungpeuk. Bagaimana perasaan keluarga pada waktu itu. Biasanya kalau ke Bandung tidak terlalu lama, ini sampai sore hari belum pulang dan ahirnya membawa berita APRA mengamuk di Kota Bandung. Alhamdulillah ayah bisa kembali pulang selamat.Gangguan keamanan masih belum selesai tanda2 gangguan keamanan masih ada yaitu dari gerombolan DI/TII Katosuwiryo. Daerah Arjasari tidak aman, daerah Cibeureum, Cikembang tembus kedaerah Garut, demikian pula didaerah Pangalengan Gunung Cupu, Pasir Malang, Genteng tembus ke Daerah Garut. Pada waktu itu Gunung Kolotok, kaki Gunung Malabar dihujani dengan meriam dari alun2 Banjaran. Puncaknya keganasan DI/TII pada waktu aku sudah pindah di Ciamis. Terasa sekali gangguan keamanannya, Kantor Urusan Agama disamping Mesjid Agung Kota Ciamis di bakar. Padahal Kantor Urusan Agama itu ada ditengah-tengah kota Ciamis dikelilingi oleh Pendopo Kabupaten, Markas Polisi Militer, Markas Polri. Mencekam sekali pada waktu itu. Ayahku kalau malam tidak ada dirumah, tapi ikut patroli dengan tentara Zipur, karena ayahku diancam oleh DI, sehingga lebih aman bersama tentara dari pada dirumah.  Pasalnya ada mantan murid ayah yang menjadi gerombolan DI. Setelah operasi tentara ditingkatkan, barulah merasa aman, apalagi setelah tertangkap beberapa anggota DI.
Tidak banyak yang tahu, bahwa dulu pada waktu gerombolan DI/TII masih merajalela peran tentara besar sekali didalam menjaga keamanan.Dari Ciamis mau ke Bandung baik menggunakan suburban atau bus, maka untuk jurusan Bandung lewat Garut, mulai dari Singaparna sudah dikawal oleh tentara, demikian pula jurusan Bandung lewat Malangbong, mulai Ciawi sudah dikawal oleh tentara sampai Nagrek. Caranya beberapa kendaraan berangkat beriringan alias ngompoy didepan dan belakang konvoy dikawal oleh tentara.  Demikian pula yang menggunakan kereta api dikawal oleh tentara caranya didepan lokomotif dipasang dua gerbong kosong, biasanya gerbong untuk mengangkut batu disanalah tentara kita mengawal dengan persenjataan lengkap plus senjata bren. Alhamdulillah setelah ada pengawalan tidak ada kereta api yang terguling ataupun bus yang diberondong. Tapi rasa aman masih jauh dari harapan karena DI/TII masih merupakan pengganggu keamanan pada umumnya. Barulah setelah Kartosuwiryo ditangkap sedikit bernafas lega. Rasa aman cukup tinggi tidak ada rasa takut mau berpergian kemanapun,mau siang mau malam tidak masalah ......Aman! Tetapi rasa aman ini tidak terlalu lama dirasakan. Keamanan kembali terusik dengan adanya pencurian kulit kina. Rasa tidak aman ini sangat dirasakan bagi mereka yang bekerja diperkebunan, maupun kehutanan atau bagi mereka yang mempunyai tanaman kina. Setiap malam pencurian kulit kina atau sucsiruba/sulibra bukan satu dua pohon tapi satu blok kebun dicuri secara sadis, pohon itu cuma diambil kulitnya saja tinggallah batang2nya yang masih berdiri, tapi tanpa kulit, sungguh sangat mengerikan bagi seorang planters. Setiap malam kami harus berjaga.tapi apalah artinya kami ini karena dengan tangan hampa tanpa senjata, kalaupun ada hanyalah bedil panjang/LE, lebih sering macetnya dari pada ngabeledug, sedangkan mereka oknum2 pencuri lengkap dengan kendaraannya dan senjata otomatisnya AK buatan rusia tea. Seorang bukan satu tapi dua senjata , kiri kanan senjata persis kaya rambo. Jelas kami akan kalah dalam penampilanpun. Tapi achirnya dapat diselesaikan dengan Operasi militer diperkuat dengan panser segala. Rasa aman tidak berlangsung lama dikota copet2 mahabu, keluar kota penodongan disertai pembunuhan,perampokan tidak saja didesa juga dikota2. Rasanya tidak aman mau keluar rumah. Achirnya munculah petrus; penembak misterius, dan yang jadi sasaran adalah mereka2 yang meresahkan masyarakat tsb. Tiada aneh bila disuatu tempat ditemukan karung berisi mayat dan  biasanya diketahui bahwa mayat2 tsb. adalah mereka meresahkan masyarakat.  Sampai saat ini kami tidak tahu siapa itu petrus yang saya rasakan dengan adanya petrus timbul rasa aman.Lumayan beberapa tahun tidak ada rasa takut, mau pergi kemanapun baik siang atau malam. Bagaimana sekarang??? Silahkan rasakan sendiri! Saya yakin bapak Polisi sudah lebih tahu kondisi keamanan sekarang. Sewaktu-waktu boleh juga meminta bantuan bapak tentara hitung2 latihan menunggu perang. Pokoknya aman saja.Memang mahal untuk rasa aman itu.























Kamis, 15 November 2012

ANAKKU LAHIR DI PERKEBUNAN PASIR YUNGHUHN

Tidak lama aku di Perkebunan Purbasari hanya kurang dari 1 tahun dimutasi ke Perkebunan Pasir Yunghuhn.
Yang mengesankan dari Perkebunan Purbasari adalah aku mengahiri masa lajangku, aku menikahi mantan pacarku dan alhmdulillah pada waktu pindah ke Pasir Yunghuhn, isteriku bulan alaeun.Di Pasir Yunghuhn aku ditugaskan menjadi Kepala Pengolahan/Pabrik Pada waktu aku di Pasir Yunghuhn terjadi musibah tanah longsor yang menelan korban jiwa,  selang beberapa hari lahirlah anakku yang pertama, lahir di Rumah Sakit Pasir Yunghuhn.Perlu diketahui, bahwa untuk melayani kesehatan bagi karyawan Perkebunan dan warga Pangalengan ada Rumah Sakit yang dilola oleh Perusahaan. Dari Perkebunan Purbasari/Wanasuka ada jalan pintas lewat Cilaki kecil, makam umum dengan ciri kasnya pohon beringin yang besar,rindang menyeramkan juga dan ahirnya sampailah ke Pasir Yunghuhn.
Pasir Yunghuhn........rada aneh juga ya. Sebagai penghargaan kepada  Meneer Yunghuhn sebagai pelopor menanam kina/chinchona, ada pasir yang ditanam kina dijadikan kebun bibit kina. Meneer Yunghuhn yang makamnya ada di Lembang. Dengan perpindahan ini bertambah rekan kerja dengan atasanku sebagai Administraturnya bapak R.Dedeng A Sunarsa, dengan wakilnya bapak Arka Ardiwinata .Employe kebun ada Daman Soleh, Djafar Sukarna, Kepala Administrasi bapak Saman,Kepala Teknik Nasution dan banyak lagi pegawai2 bulanan yang sekarang sudah pada pensiun sebagai pegawai Staf.Kadang2 sudah pada lupa maklum sudah hampir 40 tahun.Yang asing dan aneh bagiku adalah merk dagang dari produk Perkebunan Pasir Yunghuhn, dimana Perkebunan yang lainnya merk dagang sama dengan nama Perkebunannya. Perkebunan Malabar merk dagangnya MALABAR, sedangkan Perkebunan Pasir Yunghuhn merk dagangnya adalah WALANDA. Entah bagaimna bisa demikian tapi yang saya tahu sebelum diambil alih Perkebunan Pasir Yunghuhn adalah milik Pemerintah Belanda seperti juga Perkebunan Cinyiruan yang biasa disebun PPN Lama dan PPN Baru adalah Perkebunan Swasta yang diambil alih. Untuk mengenang pamarentahan Walanda, panginten. Bekerja di Pengolahan /Pabrik harus siap phisik,jaga kesehatan, karena hampir setiap saat ada kegiatan mulai dari menerima pucuk basah dari kebun, meber, melayukan, turun layu, menggiling, mengeringkan, memilih/sortasi,mengepak sampai diangkut.Biasanya pukul 02.00 sudah mulai menurunkan pucuk layu . Bayangkan orang2 sedang nyenyak2 tidur kita sudah sibuk di Pabrik. Enyoj aja dah! Habis sudah bakat........bakat ku butuh. Pembangkit listrik untuk keperluan pengolahan menggunakan tenga uap dari ketel uap.Ada kebiasaan setiap jam 04.30 sirene/hatong dibunyikan, selain untuk membangunkan para karyawan juga suka dijadikan patokan bagi masyarakat sekitar perkebunan untuk memulai kegiatan, baik yang bertani atau yang belanja ke pasar Pangalengan. Suara sirine ini cukup keras dan dapat terdengar sekeliling perkebunan.Pada suatu hari untuk beberapa hari aku bunyikan sirene itu pada pukul 03.30. Semua orang pada ribut, kok masih malam, padahal sirine sudah berbunyi.........bukan kesiangan,tapi kepagian. Karena banyak yang protes, ahirnya pimpinan turun tangan dan menanyakan kepada saya. Supaya tahu saja, kalau sirine sudah berbunyi artinya saya sudah ada di Pabrik. Ada2 saja ! Achirnya sirine dibunyikan seperti biasa lagi pukul 04.30. Hapunten kulan! Tidak lama aku bekerja di pengolahan perkebunan Pasir Yunghuhn, gara2 longsor Pabrik Pasir Yunghuhn ditutup, akibatnya saya sebagai kepala Pengolahan dimutasi ke Perkebunan Dayeuh Manggung jadi Kepala Bagian Kebun.










Kamis, 08 November 2012

HAI!JUMPA LAGI

Alhamdulillah, setelah hampir lebih dari satu tahun tidak muncul diudara, tidak berkelana didunia maya , maka pada hari ini aku bisa berkomunikasi lagi. Banyak alasan. Komputernya rusak, ada juga laptop juga sudah rusak dan yang paling penting modemnya ...........langganannya belum dibayar. Nunggu donatur dari anak2 tidak kunjung datang, Tapi alhamdulillah mantu anakku yang bungsu yang baru nikah memberi hadiah perkawinan mereka dengan dirumah dipasangi lagi modem. Thank,s. Permohonan maaf komentar2 yang belum saya jawab, Insya allah. sambil mengisi waktu, menunggu waktu,menunggu cucu, sambil moyan diteras moe tonggong akan saya jawab.Sabar saja ya! Memang beberapa bulan kebelakang saya disibuki, dimintai tolong oleh saudara untuk mencari tanah perkebunan untuk ditanami dengan aneka tanaman .peternakan dan vila untuk istirahat total jauh dari kebisingan dan jauh dari sentuhan 2 modern......back to nature. Tapi gagal Tempatnya sudah ada dan cocok, tapi ada masalah dengan hak kepemilikannya. HGU perlu diperpanjang tapi sudah dianggunakan ke Bank. Kok bisa ya?Dan yang paling sibuk adalah menijadi MC.Pagi2 antarkan dan siang hari menjemputnya. Mana tiap hari dua orang...........Momong Cucu.

Kamis, 30 Juni 2011

Mutasi antar Perkebunan

Mutasi bagi saya sebagai karyawan adalah hal yang biasa. Banyak alasan yang diberikan bila memindahkan seseorang dan alasan yang baku adalah tour of duty. Bagiku dimana saja sama saja, selama masih di perkebunan teh, yang beda cuma tempatnya saja, sedangkan soal pekerjaan ya sama saja.Mutasi pertamaku adalah mutasi dari Perkebunan Malabar ke Perkebunan Purbasari. Saya ditempatkan di Afdeling Cisero, menggantikan Employe Cisero yang dipensiun. Perkebunan Purbasari berbatasan dengan Perkebunan Malabar, masih saampar samak, hanya terpisah oleh dangdang dan sungai Cilaki. Apa salahku? Biasanya pertanyaan itulah yang ditanyakan bila seseorang dipindahkan. Demikian pula bagiku, walaupun aku menyadari, bahwa pasti aku punya kesalahan,walaupun aku yakin kesalahanku bukan korupsi, tetapi karena idealisku, aku masih muda, masih bujangan, belum banyak pertimbangan kalau ada yang tidak cocok dengan nuraniku aku menentangnya walupun kepada atasan, sedangkan kondisi pada waktu itu menentang atasan tahu risikonya, tidak naik jabatan, tidak naik pangkat dan dimutasi paling parah dikeluarkan. Tapi aku yakin aku telah bekerja baik, jadi mungkin aku sudah lama di Perkebunan Malabar hampir 6 tahun. Pimpinanku yang baru benar2 seorang pekerja yang ulet. Beliaulah mungkin satusatunya yang menjabat pimpinan karirnya dimulai masih dipimpin oleh Belanda dari karyawan yang paling rendah. Dengan keuletannya sehingga telah diambil alihpun beliau masih menjabat pimpinan tertinggi di Perkebunan. Masih banyak teman2nya yang masih jadi karyawan biasa. Aku berguru dengan keuletan dan kesabarannya dan kebijaksanaannya. Semoga amal perbuatannya beliau diterima disisi Allah swt karena beliau telah lama meninggal. Terima kasih pa Danu Atmaja. Tidak lama aku berada di Perkebunan Purbasari, cuma 1 tahun, tapi aku sangat berkesan, karena waktu aku bekerja di Perkebunan Purbasari di Afdeling Cisero aku menikah dengan isteriku yang sekarang. Tidak banyak yang dapt kuceritakan di Perkebunan Purbasari. Karena perumahan staf sedang dipersiapkan untuk Kepala Afdelling, maka untuk sementara aku tinggal diperumahan karyawan. Aku mandi dipemandian umum atau di pancuran dimata air jalan ke Pabrik itupun kalau subuh2, kalau mandi sore ikut nebeng dirumah Kepala Tehnik, sengaja sore2, karena habis mandi ditawari makan bersama. Terima kasih kang Asep Ruhiat. Karena mutasi ini temanpun bertambah, malh kadang bertemu lagi dengan teman yang sudah lebih dahulu pindah. Bertemu lagi dengan pak Agum Sasmita yang jadi wakil Pimpinan, ketemu dengan kang Asep ruhiat yang jadi Kepala Tehnik, ada kang Solih Winata, Kepala Pengolahan, Pak Komami, Kepala Adminitrasi, ada Karmawan, Arifin Maryun,Subagio, Ridwan Gandhana, Muksin dan yang lainnya yang sudah lupa lagi. Semoga yang sudah meninggal diterima segala amal perbuatannya dan yang sedang sakit diberikan yang terbaik dan yang masih sehat, semoga diberikan panjang umur dan sehat. Amin

Sabtu, 25 Juni 2011

Bekerja sambil belajar

Di Perkebunan Malabar aku mulai belajar bekerja. Belajar cara mengolah teh,membuka lahan, menanam teh,administrasi perkebunan dan secara tidak langsung belajar teknik. Timbul kepercayaan diri aku mampu bekerja,aku mampu menguasai pekerjaan perkebunan. Benar-benar aku digojlog masalah perkebunan di Perkebunan Malabar, sehingga ilmu yang aku dapatkan dapat dimanfaatkan dan menjadi modal bagi karirku selama di Perkebunan. Berorganisasi politikpun aku belajar di Perkebunan Malabar. Mula-mula aku tak tahu apa itu SARBUPRI, serikat buruh yang merupakan onderbow Partai Komunis Indonesia. Katanya pada waktu Perkebunan di kelola oleh Asing dalam hal ini Belanda, posisi Sarbupri sangat menguntungkan, bila keinginan, permohonannya tidak dikabulkan, maka mereka akan mogok. Itulah sebabnya si Bule ini mendekati Sarbupri, supaya jangan mogok dan yang beruntung adalah Pengurus Sarbupri, karena HONOR nya meningkat. Pertama kali Perkebunan diambil alih oleh Pemerintah organisasi buruh yang dominan di Perkebunan adalah Sarbupri. Karena keberadaan Sarbupri sangat mengganggu dalam ketenangan bekerja, dikit-dikit usul, dikit-dikit protes, ditegur tidak mau, bekerja maunya sendiri, kepada yang lain mempengaruhi untuk tidak bekerja benar, diantara mereka saling curiga. Maka didirikanlah PERSATUAN KARYAWAN PERKEBUNAN NEGARA atau PERKAPPEN. Tidak semua karyawan langsung masuk menjadi anggauta Perkappen, sebagian kecil masih bertahan dengan SARBUPRI nya.
Perkappen bisa dikatakan cikal bakal dari SOKSI dan selanjutnya sesuai dengan perkembangan politik di Indonesia menjadi bagian dari GOLONGAN KARYA. Pada waktu jaman Sarbupri hubungan antara Perusahaan dengan karyawan adalah hubungan antara MAJIKAN dan BURUH, sedangkan setelah dengan adanya PERKAPPEN hubungan perusahaan dengan karyawan adalah merupakan mitra kerja yang saling membutuhkan.
Gejala2 ke brutalan Sarbupri makin terlihat, setelah anggauta Sarbupri menghadiri haru ulang tahun PKI di Jakarta. Sepulangnya mereka dari Jakarta tingkah lakunya berubah sulit diatur, bekerja seenaknya, memancing-mancing agar kita marah. Kata2nya sangat arogan :" Nanti mah Kepala Bagian diganti, Administratur diganti dan nanti mah di.........sambil memperagakan seperti mencongkel mata dan seperti memotong leher......."Meletuslah G30SPKI.
Bersamaan dengan kader2 PKI dilatih di Halim, sayapun sebagai HANSIP di Perkebunan bersama dengan Hansip dari seluruh Perkebunan dilatih Pertahanan Sipil selama sebulan di Perkebunan Pasir Yunghuhn atas kerja sama Direksi dan Pemerintah Kabupaten Bandung dengan instrutur dari KODIM Bandung dan dari DODIK Pengalengan. Kenapa saya selalu mengingat kejadian tersebut, karena dalam rencana latihan dimana selesai pelatihan peserta akan study tour ke Jakarta, tetapi sehari sebelumnya ada kejadian G30SPKI, sehingga rencana dibatalkan dan semua peserta segera dipulangkan ke Perkebunan masing-masing, konsinyir di kebun masing-masing. Apa jadinya kalau pada waktu kejadian kami berada di Jakarta!?
Pada waktu aku mulai bekerja tahun 1962,gangguan keamanan masih berlangsung terutama oleh DI/TII Kartosuwiryo, maka di Perkebunan Malabar dibuat Pos Penjagaan oleh TNI dari Yon Kavaleri, sehingga kami merasa tenang bekerja karena dikawal oleh PANSER. Daerah Perkebunan Pangalengan merupakan lintasan gerombolan dari daerah Garut,Cianjur dan Bandung Selatan. Katanya sebelum diambil alih oleh Pemerintah Perkebunan merupakan sumber dana bagi DI/TII, dimana kalau Perkebunan diserang gerombolan, maka utusan dari Perkebunan akan keluar walaupun sedang ada tembak menembak dan tembak menembak akan terhenti, karena upeti telah diserahkan. Tempat yang akrab dengan kegiatan gerombolan, karena merupakan jalan lalu lintas mereka adalah, Riung Gunung,Sentral Cilaki(Perkebunan Malabar punya Pembangkit Listrik sendiri), Gunung Cupu, Dano, Cisanti, Cikembang,Pal Lima.
Berita tertangkapnya Kartosuwiryo disambut gembira oleh semua orang termasuk oleh saya sendiri karena tidak akan merasa takut lagi pada waktu bekerja dilapangan demikian pula pada waktu pulang atau berpergian keluar kebun waklaupun pada waktu malam.Bagaimana rasa takut sangat mencekam bila menjelang malam, masing-masing mempunyai tempat persembunyian rahasiah, kalau tidak ditebing dengan membuat gua, dibawah rumah atau dipara dan bebrbuat apa saja demi keselamatan semua keluarga dengan mengungsikan keluarga kekota. Alhamdulillah berkat kegotongroyongan seluruh masyarat Jawa Barat, tempat2 yang disinyalir tempatnya gerombolan DI/TII di "pagar betis"dengan tujuan mempersempit ruang gerak baik lalu lintas gerombolan maupun akomodasinya achirnya Kartosuwiryo dapat tertangkap dan sejak itu terasa aman.
Cobaan di Perkebunan belum juga selesai muncul lagi pencurian besar2an dan bersenjata pula yaitu mencuri kulit kina yang waktu itu disebut pencurian abloha kina. Kalau yang dicuri satu dua pohon tidak terlalu bermasalah, sedangkan yang mereka curi adalah tanaman kina yang usianya dari yang sudah puluhan tahun sampai yang baru ditanam disikat habis dan yang dicuri itu satu blok kebun. Sebagai seorang planter merasa ngeri melihat pohon kina tinggal batang dan ratingnya saja kulitnya sudah habis dikuliti. Karena diselesaikan sendiri oleh Perkebunan tidak tertanggulangi. Bayangkan saja kalau kami konsinyir menjaga kebun kina satu regu hansip dengan persenjataan hanya satu senapan kuno LE yang sering macetnya daripada ddooorrr, sedangkan si pencuri dengan truk yang dikawal dengan senjata canggih pada waktu itu, kaya Rambo seorang menenteng 2 buah senjata kanan kiri, jelas kami ngeper dan achirnya diadakan Operasi yang diselenggarakan oleh militer dengan mengerahkan panser segala dan alhamdulillah aman. Siapa yang menjadi otak dari pencurian itu, bagi saya sendiri tidak masalah pokoknya aman, saya tidak dibebani lagi harus piket sehari semalam di Norotog Pangalengan, pokoknya aaaammmmaaaannnn.
Banyak pengalaman yang saya dapat di Perkebunan Malabar, tapi nanti saja saya keliling dulu Perkebunan2 yang pernah saya singgahi mulai dari daerah Pangalengan, Garut, Subang sampai Sukabumi. O.K..

Kamis, 09 September 2010

MUKAKU KAYA SI CEPOT

Bekerja di Pabrik kalau tidak hati2 risiko terjadi kecelakaan bisa saja terjadi.Bisa tangan tergulung oleh ban berjalan, tangan tergiling oleh mesin giling, rambut bisa tergulung oleh as mesin yang sedang berputar, atau sarung tergulung oleh as mesin yang sedang berputar dan atau muka tersembur api dari mesin pengeringan. Hal ini terjadi pada diriku tersembur api dari mesin pengeringan. Kejadiaannya pada bulan Agustus pada musim kering, dimana temperatur sangat rendah, sehingga solar/IDO untuk mesin pengeringan membeku. Tidak solar saja yang membeku dilapanganpun ditempat-tempat tertentu terjadi "frost" dimana udara sangat dingin sehingga membentuk butiran es yang menempel di pohon teh yang mengakibatkan daun teh menjadi kering.
Pada waktu itu udara sangat dingin, sehingga solar/IDO yang dialirkan melalui pipa2 kedapur pengeringan tersendat-sendat, sehingga nyala apinya tidak lancar, padahal sudah diusahakan dengan memanaskan pipa2 tersebut. Hal inipun terjadi pada mesin pengeringan nomor 4 PARAGON. Kadang2 nyalanya normal kadang2 tersendat-sendat dan ahirnya mati. Kebetulan aku sedang berada disana maka aku datangi mesin pengeringan tsb. Prosudernya kalau mati,maka aliran solarnya harus ditutup, begitu pula pada waktu itu sewaktu akan aku tutup dan dilihat dari lobang kontrol yang kecil, tiba2 terjadi semburan api yang keluar dari lubang kontrol tsb.yang sedang aku lihat. Akibatnya aku terpelanting kebelakang hampir 3 meter dan api itu menyambar mukaku. Untungnya karena pagi hari masih dingin aku masih mengenakan selain baju juga mengenakan fullover yang sedikit menutupi wajahku. Lumayan aku masuk rumah sakit Pasir Yunghuhn,karena kata dokter masih stadium 1 , maka pengobatannya mukaku diberi obat merah jadilah mukaku kaya si Cepot. Ramailah para suster ingin melihat mukaku atau mau melihatku yang masih lajang. Ada-ada saja.