Pengalaman hidup sejak kecil, dewasa,sekolah,bekerja,pensiun dan menjalani sisa hidup.
Kamis, 08 November 2012
HAI!JUMPA LAGI
Alhamdulillah, setelah hampir lebih dari satu tahun tidak muncul diudara, tidak berkelana didunia maya , maka pada hari ini aku bisa berkomunikasi lagi. Banyak alasan. Komputernya rusak, ada juga laptop juga sudah rusak dan yang paling penting modemnya ...........langganannya belum dibayar. Nunggu donatur dari anak2 tidak kunjung datang, Tapi alhamdulillah mantu anakku yang bungsu yang baru nikah memberi hadiah perkawinan mereka dengan dirumah dipasangi lagi modem. Thank,s. Permohonan maaf komentar2 yang belum saya jawab, Insya allah. sambil mengisi waktu, menunggu waktu,menunggu cucu, sambil moyan diteras moe tonggong akan saya jawab.Sabar saja ya! Memang beberapa bulan kebelakang saya disibuki, dimintai tolong oleh saudara untuk mencari tanah perkebunan untuk ditanami dengan aneka tanaman .peternakan dan vila untuk istirahat total jauh dari kebisingan dan jauh dari sentuhan 2 modern......back to nature. Tapi gagal Tempatnya sudah ada dan cocok, tapi ada masalah dengan hak kepemilikannya. HGU perlu diperpanjang tapi sudah dianggunakan ke Bank. Kok bisa ya?Dan yang paling sibuk adalah menijadi MC.Pagi2 antarkan dan siang hari menjemputnya. Mana tiap hari dua orang...........Momong Cucu.
Kamis, 30 Juni 2011
Mutasi antar Perkebunan
Mutasi bagi saya sebagai karyawan adalah hal yang biasa. Banyak alasan yang diberikan bila memindahkan seseorang dan alasan yang baku adalah tour of duty. Bagiku dimana saja sama saja, selama masih di perkebunan teh, yang beda cuma tempatnya saja, sedangkan soal pekerjaan ya sama saja.Mutasi pertamaku adalah mutasi dari Perkebunan Malabar ke Perkebunan Purbasari. Saya ditempatkan di Afdeling Cisero, menggantikan Employe Cisero yang dipensiun. Perkebunan Purbasari berbatasan dengan Perkebunan Malabar, masih saampar samak, hanya terpisah oleh dangdang dan sungai Cilaki. Apa salahku? Biasanya pertanyaan itulah yang ditanyakan bila seseorang dipindahkan. Demikian pula bagiku, walaupun aku menyadari, bahwa pasti aku punya kesalahan,walaupun aku yakin kesalahanku bukan korupsi, tetapi karena idealisku, aku masih muda, masih bujangan, belum banyak pertimbangan kalau ada yang tidak cocok dengan nuraniku aku menentangnya walupun kepada atasan, sedangkan kondisi pada waktu itu menentang atasan tahu risikonya, tidak naik jabatan, tidak naik pangkat dan dimutasi paling parah dikeluarkan. Tapi aku yakin aku telah bekerja baik, jadi mungkin aku sudah lama di Perkebunan Malabar hampir 6 tahun. Pimpinanku yang baru benar2 seorang pekerja yang ulet. Beliaulah mungkin satusatunya yang menjabat pimpinan karirnya dimulai masih dipimpin oleh Belanda dari karyawan yang paling rendah. Dengan keuletannya sehingga telah diambil alihpun beliau masih menjabat pimpinan tertinggi di Perkebunan. Masih banyak teman2nya yang masih jadi karyawan biasa. Aku berguru dengan keuletan dan kesabarannya dan kebijaksanaannya. Semoga amal perbuatannya beliau diterima disisi Allah swt karena beliau telah lama meninggal. Terima kasih pa Danu Atmaja. Tidak lama aku berada di Perkebunan Purbasari, cuma 1 tahun, tapi aku sangat berkesan, karena waktu aku bekerja di Perkebunan Purbasari di Afdeling Cisero aku menikah dengan isteriku yang sekarang. Tidak banyak yang dapt kuceritakan di Perkebunan Purbasari. Karena perumahan staf sedang dipersiapkan untuk Kepala Afdelling, maka untuk sementara aku tinggal diperumahan karyawan. Aku mandi dipemandian umum atau di pancuran dimata air jalan ke Pabrik itupun kalau subuh2, kalau mandi sore ikut nebeng dirumah Kepala Tehnik, sengaja sore2, karena habis mandi ditawari makan bersama. Terima kasih kang Asep Ruhiat. Karena mutasi ini temanpun bertambah, malh kadang bertemu lagi dengan teman yang sudah lebih dahulu pindah. Bertemu lagi dengan pak Agum Sasmita yang jadi wakil Pimpinan, ketemu dengan kang Asep ruhiat yang jadi Kepala Tehnik, ada kang Solih Winata, Kepala Pengolahan, Pak Komami, Kepala Adminitrasi, ada Karmawan, Arifin Maryun,Subagio, Ridwan Gandhana, Muksin dan yang lainnya yang sudah lupa lagi. Semoga yang sudah meninggal diterima segala amal perbuatannya dan yang sedang sakit diberikan yang terbaik dan yang masih sehat, semoga diberikan panjang umur dan sehat. Amin
Sabtu, 25 Juni 2011
Bekerja sambil belajar
Di Perkebunan Malabar aku mulai belajar bekerja. Belajar cara mengolah teh,membuka lahan, menanam teh,administrasi perkebunan dan secara tidak langsung belajar teknik. Timbul kepercayaan diri aku mampu bekerja,aku mampu menguasai pekerjaan perkebunan. Benar-benar aku digojlog masalah perkebunan di Perkebunan Malabar, sehingga ilmu yang aku dapatkan dapat dimanfaatkan dan menjadi modal bagi karirku selama di Perkebunan. Berorganisasi politikpun aku belajar di Perkebunan Malabar. Mula-mula aku tak tahu apa itu SARBUPRI, serikat buruh yang merupakan onderbow Partai Komunis Indonesia. Katanya pada waktu Perkebunan di kelola oleh Asing dalam hal ini Belanda, posisi Sarbupri sangat menguntungkan, bila keinginan, permohonannya tidak dikabulkan, maka mereka akan mogok. Itulah sebabnya si Bule ini mendekati Sarbupri, supaya jangan mogok dan yang beruntung adalah Pengurus Sarbupri, karena HONOR nya meningkat. Pertama kali Perkebunan diambil alih oleh Pemerintah organisasi buruh yang dominan di Perkebunan adalah Sarbupri. Karena keberadaan Sarbupri sangat mengganggu dalam ketenangan bekerja, dikit-dikit usul, dikit-dikit protes, ditegur tidak mau, bekerja maunya sendiri, kepada yang lain mempengaruhi untuk tidak bekerja benar, diantara mereka saling curiga. Maka didirikanlah PERSATUAN KARYAWAN PERKEBUNAN NEGARA atau PERKAPPEN. Tidak semua karyawan langsung masuk menjadi anggauta Perkappen, sebagian kecil masih bertahan dengan SARBUPRI nya.
Perkappen bisa dikatakan cikal bakal dari SOKSI dan selanjutnya sesuai dengan perkembangan politik di Indonesia menjadi bagian dari GOLONGAN KARYA. Pada waktu jaman Sarbupri hubungan antara Perusahaan dengan karyawan adalah hubungan antara MAJIKAN dan BURUH, sedangkan setelah dengan adanya PERKAPPEN hubungan perusahaan dengan karyawan adalah merupakan mitra kerja yang saling membutuhkan.
Gejala2 ke brutalan Sarbupri makin terlihat, setelah anggauta Sarbupri menghadiri haru ulang tahun PKI di Jakarta. Sepulangnya mereka dari Jakarta tingkah lakunya berubah sulit diatur, bekerja seenaknya, memancing-mancing agar kita marah. Kata2nya sangat arogan :" Nanti mah Kepala Bagian diganti, Administratur diganti dan nanti mah di.........sambil memperagakan seperti mencongkel mata dan seperti memotong leher......."Meletuslah G30SPKI.
Bersamaan dengan kader2 PKI dilatih di Halim, sayapun sebagai HANSIP di Perkebunan bersama dengan Hansip dari seluruh Perkebunan dilatih Pertahanan Sipil selama sebulan di Perkebunan Pasir Yunghuhn atas kerja sama Direksi dan Pemerintah Kabupaten Bandung dengan instrutur dari KODIM Bandung dan dari DODIK Pengalengan. Kenapa saya selalu mengingat kejadian tersebut, karena dalam rencana latihan dimana selesai pelatihan peserta akan study tour ke Jakarta, tetapi sehari sebelumnya ada kejadian G30SPKI, sehingga rencana dibatalkan dan semua peserta segera dipulangkan ke Perkebunan masing-masing, konsinyir di kebun masing-masing. Apa jadinya kalau pada waktu kejadian kami berada di Jakarta!?
Pada waktu aku mulai bekerja tahun 1962,gangguan keamanan masih berlangsung terutama oleh DI/TII Kartosuwiryo, maka di Perkebunan Malabar dibuat Pos Penjagaan oleh TNI dari Yon Kavaleri, sehingga kami merasa tenang bekerja karena dikawal oleh PANSER. Daerah Perkebunan Pangalengan merupakan lintasan gerombolan dari daerah Garut,Cianjur dan Bandung Selatan. Katanya sebelum diambil alih oleh Pemerintah Perkebunan merupakan sumber dana bagi DI/TII, dimana kalau Perkebunan diserang gerombolan, maka utusan dari Perkebunan akan keluar walaupun sedang ada tembak menembak dan tembak menembak akan terhenti, karena upeti telah diserahkan. Tempat yang akrab dengan kegiatan gerombolan, karena merupakan jalan lalu lintas mereka adalah, Riung Gunung,Sentral Cilaki(Perkebunan Malabar punya Pembangkit Listrik sendiri), Gunung Cupu, Dano, Cisanti, Cikembang,Pal Lima.
Berita tertangkapnya Kartosuwiryo disambut gembira oleh semua orang termasuk oleh saya sendiri karena tidak akan merasa takut lagi pada waktu bekerja dilapangan demikian pula pada waktu pulang atau berpergian keluar kebun waklaupun pada waktu malam.Bagaimana rasa takut sangat mencekam bila menjelang malam, masing-masing mempunyai tempat persembunyian rahasiah, kalau tidak ditebing dengan membuat gua, dibawah rumah atau dipara dan bebrbuat apa saja demi keselamatan semua keluarga dengan mengungsikan keluarga kekota. Alhamdulillah berkat kegotongroyongan seluruh masyarat Jawa Barat, tempat2 yang disinyalir tempatnya gerombolan DI/TII di "pagar betis"dengan tujuan mempersempit ruang gerak baik lalu lintas gerombolan maupun akomodasinya achirnya Kartosuwiryo dapat tertangkap dan sejak itu terasa aman.
Cobaan di Perkebunan belum juga selesai muncul lagi pencurian besar2an dan bersenjata pula yaitu mencuri kulit kina yang waktu itu disebut pencurian abloha kina. Kalau yang dicuri satu dua pohon tidak terlalu bermasalah, sedangkan yang mereka curi adalah tanaman kina yang usianya dari yang sudah puluhan tahun sampai yang baru ditanam disikat habis dan yang dicuri itu satu blok kebun. Sebagai seorang planter merasa ngeri melihat pohon kina tinggal batang dan ratingnya saja kulitnya sudah habis dikuliti. Karena diselesaikan sendiri oleh Perkebunan tidak tertanggulangi. Bayangkan saja kalau kami konsinyir menjaga kebun kina satu regu hansip dengan persenjataan hanya satu senapan kuno LE yang sering macetnya daripada ddooorrr, sedangkan si pencuri dengan truk yang dikawal dengan senjata canggih pada waktu itu, kaya Rambo seorang menenteng 2 buah senjata kanan kiri, jelas kami ngeper dan achirnya diadakan Operasi yang diselenggarakan oleh militer dengan mengerahkan panser segala dan alhamdulillah aman. Siapa yang menjadi otak dari pencurian itu, bagi saya sendiri tidak masalah pokoknya aman, saya tidak dibebani lagi harus piket sehari semalam di Norotog Pangalengan, pokoknya aaaammmmaaaannnn.
Banyak pengalaman yang saya dapat di Perkebunan Malabar, tapi nanti saja saya keliling dulu Perkebunan2 yang pernah saya singgahi mulai dari daerah Pangalengan, Garut, Subang sampai Sukabumi. O.K..
Perkappen bisa dikatakan cikal bakal dari SOKSI dan selanjutnya sesuai dengan perkembangan politik di Indonesia menjadi bagian dari GOLONGAN KARYA. Pada waktu jaman Sarbupri hubungan antara Perusahaan dengan karyawan adalah hubungan antara MAJIKAN dan BURUH, sedangkan setelah dengan adanya PERKAPPEN hubungan perusahaan dengan karyawan adalah merupakan mitra kerja yang saling membutuhkan.
Gejala2 ke brutalan Sarbupri makin terlihat, setelah anggauta Sarbupri menghadiri haru ulang tahun PKI di Jakarta. Sepulangnya mereka dari Jakarta tingkah lakunya berubah sulit diatur, bekerja seenaknya, memancing-mancing agar kita marah. Kata2nya sangat arogan :" Nanti mah Kepala Bagian diganti, Administratur diganti dan nanti mah di.........sambil memperagakan seperti mencongkel mata dan seperti memotong leher......."Meletuslah G30SPKI.
Bersamaan dengan kader2 PKI dilatih di Halim, sayapun sebagai HANSIP di Perkebunan bersama dengan Hansip dari seluruh Perkebunan dilatih Pertahanan Sipil selama sebulan di Perkebunan Pasir Yunghuhn atas kerja sama Direksi dan Pemerintah Kabupaten Bandung dengan instrutur dari KODIM Bandung dan dari DODIK Pengalengan. Kenapa saya selalu mengingat kejadian tersebut, karena dalam rencana latihan dimana selesai pelatihan peserta akan study tour ke Jakarta, tetapi sehari sebelumnya ada kejadian G30SPKI, sehingga rencana dibatalkan dan semua peserta segera dipulangkan ke Perkebunan masing-masing, konsinyir di kebun masing-masing. Apa jadinya kalau pada waktu kejadian kami berada di Jakarta!?
Pada waktu aku mulai bekerja tahun 1962,gangguan keamanan masih berlangsung terutama oleh DI/TII Kartosuwiryo, maka di Perkebunan Malabar dibuat Pos Penjagaan oleh TNI dari Yon Kavaleri, sehingga kami merasa tenang bekerja karena dikawal oleh PANSER. Daerah Perkebunan Pangalengan merupakan lintasan gerombolan dari daerah Garut,Cianjur dan Bandung Selatan. Katanya sebelum diambil alih oleh Pemerintah Perkebunan merupakan sumber dana bagi DI/TII, dimana kalau Perkebunan diserang gerombolan, maka utusan dari Perkebunan akan keluar walaupun sedang ada tembak menembak dan tembak menembak akan terhenti, karena upeti telah diserahkan. Tempat yang akrab dengan kegiatan gerombolan, karena merupakan jalan lalu lintas mereka adalah, Riung Gunung,Sentral Cilaki(Perkebunan Malabar punya Pembangkit Listrik sendiri), Gunung Cupu, Dano, Cisanti, Cikembang,Pal Lima.
Berita tertangkapnya Kartosuwiryo disambut gembira oleh semua orang termasuk oleh saya sendiri karena tidak akan merasa takut lagi pada waktu bekerja dilapangan demikian pula pada waktu pulang atau berpergian keluar kebun waklaupun pada waktu malam.Bagaimana rasa takut sangat mencekam bila menjelang malam, masing-masing mempunyai tempat persembunyian rahasiah, kalau tidak ditebing dengan membuat gua, dibawah rumah atau dipara dan bebrbuat apa saja demi keselamatan semua keluarga dengan mengungsikan keluarga kekota. Alhamdulillah berkat kegotongroyongan seluruh masyarat Jawa Barat, tempat2 yang disinyalir tempatnya gerombolan DI/TII di "pagar betis"dengan tujuan mempersempit ruang gerak baik lalu lintas gerombolan maupun akomodasinya achirnya Kartosuwiryo dapat tertangkap dan sejak itu terasa aman.
Cobaan di Perkebunan belum juga selesai muncul lagi pencurian besar2an dan bersenjata pula yaitu mencuri kulit kina yang waktu itu disebut pencurian abloha kina. Kalau yang dicuri satu dua pohon tidak terlalu bermasalah, sedangkan yang mereka curi adalah tanaman kina yang usianya dari yang sudah puluhan tahun sampai yang baru ditanam disikat habis dan yang dicuri itu satu blok kebun. Sebagai seorang planter merasa ngeri melihat pohon kina tinggal batang dan ratingnya saja kulitnya sudah habis dikuliti. Karena diselesaikan sendiri oleh Perkebunan tidak tertanggulangi. Bayangkan saja kalau kami konsinyir menjaga kebun kina satu regu hansip dengan persenjataan hanya satu senapan kuno LE yang sering macetnya daripada ddooorrr, sedangkan si pencuri dengan truk yang dikawal dengan senjata canggih pada waktu itu, kaya Rambo seorang menenteng 2 buah senjata kanan kiri, jelas kami ngeper dan achirnya diadakan Operasi yang diselenggarakan oleh militer dengan mengerahkan panser segala dan alhamdulillah aman. Siapa yang menjadi otak dari pencurian itu, bagi saya sendiri tidak masalah pokoknya aman, saya tidak dibebani lagi harus piket sehari semalam di Norotog Pangalengan, pokoknya aaaammmmaaaannnn.
Banyak pengalaman yang saya dapat di Perkebunan Malabar, tapi nanti saja saya keliling dulu Perkebunan2 yang pernah saya singgahi mulai dari daerah Pangalengan, Garut, Subang sampai Sukabumi. O.K..
Kamis, 09 September 2010
MUKAKU KAYA SI CEPOT
Bekerja di Pabrik kalau tidak hati2 risiko terjadi kecelakaan bisa saja terjadi.Bisa tangan tergulung oleh ban berjalan, tangan tergiling oleh mesin giling, rambut bisa tergulung oleh as mesin yang sedang berputar, atau sarung tergulung oleh as mesin yang sedang berputar dan atau muka tersembur api dari mesin pengeringan. Hal ini terjadi pada diriku tersembur api dari mesin pengeringan. Kejadiaannya pada bulan Agustus pada musim kering, dimana temperatur sangat rendah, sehingga solar/IDO untuk mesin pengeringan membeku. Tidak solar saja yang membeku dilapanganpun ditempat-tempat tertentu terjadi "frost" dimana udara sangat dingin sehingga membentuk butiran es yang menempel di pohon teh yang mengakibatkan daun teh menjadi kering.
Pada waktu itu udara sangat dingin, sehingga solar/IDO yang dialirkan melalui pipa2 kedapur pengeringan tersendat-sendat, sehingga nyala apinya tidak lancar, padahal sudah diusahakan dengan memanaskan pipa2 tersebut. Hal inipun terjadi pada mesin pengeringan nomor 4 PARAGON. Kadang2 nyalanya normal kadang2 tersendat-sendat dan ahirnya mati. Kebetulan aku sedang berada disana maka aku datangi mesin pengeringan tsb. Prosudernya kalau mati,maka aliran solarnya harus ditutup, begitu pula pada waktu itu sewaktu akan aku tutup dan dilihat dari lobang kontrol yang kecil, tiba2 terjadi semburan api yang keluar dari lubang kontrol tsb.yang sedang aku lihat. Akibatnya aku terpelanting kebelakang hampir 3 meter dan api itu menyambar mukaku. Untungnya karena pagi hari masih dingin aku masih mengenakan selain baju juga mengenakan fullover yang sedikit menutupi wajahku. Lumayan aku masuk rumah sakit Pasir Yunghuhn,karena kata dokter masih stadium 1 , maka pengobatannya mukaku diberi obat merah jadilah mukaku kaya si Cepot. Ramailah para suster ingin melihat mukaku atau mau melihatku yang masih lajang. Ada-ada saja.
Pada waktu itu udara sangat dingin, sehingga solar/IDO yang dialirkan melalui pipa2 kedapur pengeringan tersendat-sendat, sehingga nyala apinya tidak lancar, padahal sudah diusahakan dengan memanaskan pipa2 tersebut. Hal inipun terjadi pada mesin pengeringan nomor 4 PARAGON. Kadang2 nyalanya normal kadang2 tersendat-sendat dan ahirnya mati. Kebetulan aku sedang berada disana maka aku datangi mesin pengeringan tsb. Prosudernya kalau mati,maka aliran solarnya harus ditutup, begitu pula pada waktu itu sewaktu akan aku tutup dan dilihat dari lobang kontrol yang kecil, tiba2 terjadi semburan api yang keluar dari lubang kontrol tsb.yang sedang aku lihat. Akibatnya aku terpelanting kebelakang hampir 3 meter dan api itu menyambar mukaku. Untungnya karena pagi hari masih dingin aku masih mengenakan selain baju juga mengenakan fullover yang sedikit menutupi wajahku. Lumayan aku masuk rumah sakit Pasir Yunghuhn,karena kata dokter masih stadium 1 , maka pengobatannya mukaku diberi obat merah jadilah mukaku kaya si Cepot. Ramailah para suster ingin melihat mukaku atau mau melihatku yang masih lajang. Ada-ada saja.
Jumat, 16 April 2010
Gelanggang Olah Raga Dinamika
Setelah bekas Pabrik Malabar di renovasi dijadikan Gelanggang Olah Raga Dinamika, maka segala kegiatan yang memerlukan tempat yang luas diselenggarakan di Gelora Dinamika Malabar, karena Gelora bisa menampung orang kurang lebih 2.000 orang. Pertunjukan kesenian,pertandingan bulutangkis, pertunjukan wayang golek, pemutaran film, rapat2 umum dapat dilaksanakan di Gelora ini, termasuk pada waktu Pekan Olah Raga Perusahaan Perkebunan Negara se Indonesia pada tahun 1965. Pembangunan Gelora Dinamika cukup membanggakan,karena dikerjakan sendiri oleh Perkebunan yang dimotori oleh Mas Sunardi, kang Asep Ruchiat, kang Abung dan rekan2nya, sesuai dengan semangat pada waktu itu Berdiri diatas kaki sendiri. Pernah pula diselenggarakan Pameran Pembangunan untuk menjawab tantangan berdiri diatas kaki sendiri dengan diembargonya produk2 Indonesia, diboikotnya harga 2 komoditi perkebunan dan Partai Komunis Indonesia mulai menggelitik melalui Sarbupri nya dengan usulan2an yang nyeleneh pada waktu itu.
Alhamdulillah berkat Ridhonya Perkebunan tetap eksis. Perkebunan yang ditingalkan bule2 dengan perhitungan mereka karena ditinggalkan oleh mereka Perkebunan akan hancur, tetap menjadi andalan Pemerintah sebagai penyumbang devisa bagi Negara . Produksi terus meningkat demikian pula kwalitasnya. Terobosan2 pemasaran dilaksanakan demi tercapainya devisa negara dan demi menciptakan kepercayaan negara lain, bahwa Perkebunan masih ada.
Dari tahun ketahun anak2 usia sekolah makin bertambah. Anak2 lulusan SD makin banyak sedangkan sekolah lanjutannya tidak ada; yang akan melanjutkan sekolah yang lebih tinggi harus pergi ke Pangalengan. Mungkin dengan pertimbangan2 tsb.para pembuat keputusan dalam hal ini Direksi, maka Gelora Dinamika di renovasi jadi bangunan SD dan SMP. Alhamdulillah lulusan2 dari SMP sudah banyak yang jadi Mandor, Mandor Besar dan ada pula yang sudah menjadi Kepala Bagian, siapa tahu suatu saat jebolan SD/SMP Malabar menjadi Direktur, sesuatu yang mungkin terjadi, karena yang menjadi sarjana mah sudah banyak.
Makanya sangat sedih waktu ada Penjabat yang mengecilkan arti Perkebunan, Perkebunan akan ditutup. Bagi2 saja lahannya untuk rakyat. Apa Perkebunan? Akibatnya banyak lahan2 perkebunan yang diserobot, pohon karet ditebang, pohon teh dibongkar, tanah cadangan ditanami liar dengan dalih, HGU sudah habis, tanah tidur. Sedih....sedih sekali. Ko teganya...teganya. Untungnya aku sudah pensiun jadi tidak banyak urusan dengan penyerobot2.
Alhamdulillah berkat Ridhonya Perkebunan tetap eksis. Perkebunan yang ditingalkan bule2 dengan perhitungan mereka karena ditinggalkan oleh mereka Perkebunan akan hancur, tetap menjadi andalan Pemerintah sebagai penyumbang devisa bagi Negara . Produksi terus meningkat demikian pula kwalitasnya. Terobosan2 pemasaran dilaksanakan demi tercapainya devisa negara dan demi menciptakan kepercayaan negara lain, bahwa Perkebunan masih ada.
Dari tahun ketahun anak2 usia sekolah makin bertambah. Anak2 lulusan SD makin banyak sedangkan sekolah lanjutannya tidak ada; yang akan melanjutkan sekolah yang lebih tinggi harus pergi ke Pangalengan. Mungkin dengan pertimbangan2 tsb.para pembuat keputusan dalam hal ini Direksi, maka Gelora Dinamika di renovasi jadi bangunan SD dan SMP. Alhamdulillah lulusan2 dari SMP sudah banyak yang jadi Mandor, Mandor Besar dan ada pula yang sudah menjadi Kepala Bagian, siapa tahu suatu saat jebolan SD/SMP Malabar menjadi Direktur, sesuatu yang mungkin terjadi, karena yang menjadi sarjana mah sudah banyak.
Makanya sangat sedih waktu ada Penjabat yang mengecilkan arti Perkebunan, Perkebunan akan ditutup. Bagi2 saja lahannya untuk rakyat. Apa Perkebunan? Akibatnya banyak lahan2 perkebunan yang diserobot, pohon karet ditebang, pohon teh dibongkar, tanah cadangan ditanami liar dengan dalih, HGU sudah habis, tanah tidur. Sedih....sedih sekali. Ko teganya...teganya. Untungnya aku sudah pensiun jadi tidak banyak urusan dengan penyerobot2.
Rabu, 14 April 2010
JADI BODOR REOG
Sudah menjadi kebiasaan tak tertulis, siapa yang menjadi Kepala Bagian Malabar Selatan harus menjadi Kepala Kampung Emplasemen Malabar. Emplasemen Malabar cukup luas juga terdiri dari 14 R.T.dan kalau aku berkeliling mengontrol emplasemen cukup melelahkan dan pasti saja habis keliling....perut lapar. Setiap Emplasemen mempunyai mesjid dan Poliklnik. Ada aula tempat karyawan bayaran dan pertunjukan kesenian,pemutran film keliling sebulan sekali dan untuk keperluan lainnya yang perlu dihadiri oleh banyak karyawan. Di Aula inilah penyuluhan mengenai Keluarga Berencana, Desa Panca Marga dan hal2 yang perlu diketahui oleh masyarakat disampaikan. Ada pula Radio Umum, karena belum semua karyawan mempunyai radio apalagi televisi. Biasanya aula ini akan penuh oleh karyawan pada malam Minggu, karena ada Wayang Golek di radio.Memang pertunjukan wayang golek sangat populer bagi karyawan Perkebunan, makanya pada waktu hari Raya Idulfitri seperti harus menyelenggarakan pertunjukan wayang golek, walaupun mereka harus mengeluarkan iuran bersama. Di aula inilah tempatnya. Kalau saja tidak ada pertunjukan Wayang Golek bisa-bisa di demo kalau cara sekarang mah. Mereka akrab dengan nama2 dalang pada waktu itu ada Parta suwanda,Hadi, R.Sunarya, Asep,Amung, Omay dan yang lainnya. Demikian pula dengan sinden2nya,mereka lebih mengenal Upit Sarimanah, Titim Patimah dan sinden2 beken lainnya pada waktu itu, karena hampir setiap saat radio akan memutar lagu2 mereka. Belum ada dangdut pada waktu itu mah.
Setiap Emplasemen mempunyai seperangkat gamelan dan pada waktu2 tertentu untuk mengisi kesepian di Perkebunan diadakan pertunjukan gamelan dari karyawan untuk karyawan dengan sinden lokal; biasanya pemetik yang kalau bekerja suka ngahaleuang. Bisa dikatakan gamelan ini adalah warisan dari juragan2 kontrak dahulu, karena pada waktu itu bagi kebun2 yang dekat ke Pabrik, para pemetik akan menimbang pucuknya langsung ke Pabrik dan selama penimbangan itu akan diiringi dengan tabuhan gamelan yang ditabuh di panggung diperempatan jalan masuk ke Pabrik.
Rumahku besar, maka sekali-kali latihan kesenian itu diselenggarakan dirumah.Kalau tidak menabuh gamelan, nyalung atau ngareog. Karena aku ingin bisa ngareog, maka aku ikut berlatih ngareog, banyak filosofi dari ngareog ini dan aku dijadikan tukang reog yang suka bikin onar, jadilah aku..........bodor reog. Aula itu akan penuh sesak oleh para karyawan mulai dari nenek2 dan aki2, para perawan tingting kalau tahu bahwa aku akan ngareog, bagaimana tidak yang ngareognya Kepala Bagian, Kepala Kampungnya, masih lajang dan..............ganteng! Maunya. Geer ni jeeee. Kenapa aku mau jadi bodor reog?? Ternyata dengan pertunjukkan kesenian mudah sekali mengumpulkan orang banyak dan disanalah aku menyampaikan secara tidak langsung misi dari Perusahaan . Mudah2an kesenian ini masih berlanjut diteruskan oleh penggantiku. Semoga.
Setiap Emplasemen mempunyai seperangkat gamelan dan pada waktu2 tertentu untuk mengisi kesepian di Perkebunan diadakan pertunjukan gamelan dari karyawan untuk karyawan dengan sinden lokal; biasanya pemetik yang kalau bekerja suka ngahaleuang. Bisa dikatakan gamelan ini adalah warisan dari juragan2 kontrak dahulu, karena pada waktu itu bagi kebun2 yang dekat ke Pabrik, para pemetik akan menimbang pucuknya langsung ke Pabrik dan selama penimbangan itu akan diiringi dengan tabuhan gamelan yang ditabuh di panggung diperempatan jalan masuk ke Pabrik.
Rumahku besar, maka sekali-kali latihan kesenian itu diselenggarakan dirumah.Kalau tidak menabuh gamelan, nyalung atau ngareog. Karena aku ingin bisa ngareog, maka aku ikut berlatih ngareog, banyak filosofi dari ngareog ini dan aku dijadikan tukang reog yang suka bikin onar, jadilah aku..........bodor reog. Aula itu akan penuh sesak oleh para karyawan mulai dari nenek2 dan aki2, para perawan tingting kalau tahu bahwa aku akan ngareog, bagaimana tidak yang ngareognya Kepala Bagian, Kepala Kampungnya, masih lajang dan..............ganteng! Maunya. Geer ni jeeee. Kenapa aku mau jadi bodor reog?? Ternyata dengan pertunjukkan kesenian mudah sekali mengumpulkan orang banyak dan disanalah aku menyampaikan secara tidak langsung misi dari Perusahaan . Mudah2an kesenian ini masih berlanjut diteruskan oleh penggantiku. Semoga.
Selasa, 09 Maret 2010
BODYGUARDKU MANG UKAN
Sebagai Kepala Bagian Kebun, maka aku berhak mendiami rumah dinas.Lumayan besar untuk ukuran aku yang masih bujangan, ada 2 kamar tidur, 2 kamar mandi , gudang, dapur dan ruang keluarga,ruang tamu dan ruang makan bersatu, sehingga ruangan itu terlihat cukup luas. Lantainya dari kayu yang kalau kita berjalan akan terdengar duk....duk....duk. Walaupun masih bujangan berhak pula untuk mendapat pelayan rumah untuk mengurus rumah tanggaku. Pelayanku adalah mang Ukan, orangnya lugu, tapi gesit dan jujur. Dialah yang megurus kebutuhanku setiap hari. Dialah yang belanja ke Pangalengan bersama ibu staf lainnya,dia yang memasak, dia yang mencuci, dia yang mengurus kebersihan rumah. Yang tidak dia lakukan, adalah ........memandikanku. Karena dulu katanya ada juragan yang suka dimandiin sama pembantunya dan pembantunya itu adalah....wanita. Siapa yang tidak mau!! Mang Ukan wajib tinggal dirumahku menemaniku, terutama pada malam hari. Tapi apa yang terjadi? Kalau sudah selesai makan malam,maka ia akan minta ijin keluar rumah, maka ditingalkan aku sendiri dirumah, mana rumahnya gede, belum ada televisi, ada juga radio butut, radio roti yang sudah dimodifikasi oleh kakakku, radio Kongo belum ada pada waktu itu. Tinggallah aku sendiri.
Kemana perginya mang Ukan malam2? Ternyata dibelakang rumahku ada perawan tingting, anaknya mandor Kebun, disanalah dia Wakuncar. Dan achirnya jadi juga isterinya mang Ukan, walaupun tidak lama, karena ternyata isterinya punya PIL. Sosok mang Ukan cukup dikenal di Perk.Malabar, baik oleh ibu2 maupun oleh pegawai-pegawai lainnya, selain karena orangnya jujur karena ybs. hampang birit. Apalagi bagi keluargaku mang Ukan cukup terkenal dan terkenang, karena disetiap kegiatan keluargaku mang Ukan selallu hadir. Mang Ukan jadi pengawalku sejak aku bujangan sampai aku punya anak selama ada di daerah Pangalengan.
Mang Ukan sekarang sudah pensiun dan tinggal di Malabar. Walaupun di panggil mang Ukan, ternyata pensiunnya lebih dulu aku. Memang mang Ukan kelihatan tua ,tapi ternyata umurku lebih tua, sehingga aku lebih dahulu pensiun. Mang Ukan....mang Ukan, salam buat seluruh keluarga mang Ukan.
Kemana perginya mang Ukan malam2? Ternyata dibelakang rumahku ada perawan tingting, anaknya mandor Kebun, disanalah dia Wakuncar. Dan achirnya jadi juga isterinya mang Ukan, walaupun tidak lama, karena ternyata isterinya punya PIL. Sosok mang Ukan cukup dikenal di Perk.Malabar, baik oleh ibu2 maupun oleh pegawai-pegawai lainnya, selain karena orangnya jujur karena ybs. hampang birit. Apalagi bagi keluargaku mang Ukan cukup terkenal dan terkenang, karena disetiap kegiatan keluargaku mang Ukan selallu hadir. Mang Ukan jadi pengawalku sejak aku bujangan sampai aku punya anak selama ada di daerah Pangalengan.
Mang Ukan sekarang sudah pensiun dan tinggal di Malabar. Walaupun di panggil mang Ukan, ternyata pensiunnya lebih dulu aku. Memang mang Ukan kelihatan tua ,tapi ternyata umurku lebih tua, sehingga aku lebih dahulu pensiun. Mang Ukan....mang Ukan, salam buat seluruh keluarga mang Ukan.
Langganan:
Postingan (Atom)